Zakat: Gaya Hidup Positif Generasi Muda di Bulan Ramadan
Sumber Foto: RRI.co.id
Lifestyle

Zakat: Gaya Hidup Positif Generasi Muda di Bulan Ramadan

Arahan News - RRI.CO.ID, Entikong - Ramadan menjadi momentum penting bagi generasi muda untuk menata kembali cara pandang terhadap zakat, bukan hanya sebagai kewajiban agama tetapi juga sebagai gaya hidup yang menumbuhkan kepedulian sosial. Ketika zakat dipahami secara sederhana dan dekat dengan kehidupan sehari-hari, nilai solidaritas dan empati antar sesama dapat tumbuh lebih kuat di tengah masyarakat.

Direktur Masjid Kapal Munzalan Kubu Raya, Al-Ustadz Abu Hasan mengatakan, zakat perlu dikemas dengan pendekatan yang mudah dipahami oleh anak muda agar dapat menjadi bagian dari kebiasaan positif dalam kehidupan mereka. Menurutnya, pendekatan yang terlalu kaku sering membuat generasi muda merasa zakat adalah konsep yang berat dan jauh dari kehidupan mereka.

“Kalau kita berbicara tentang zakat kepada anak muda, maka bahasanya harus disederhanakan tanpa mengubah makna zakat itu sendiri. Zakat sejatinya adalah bentuk kita hidup secara sosial, saling membantu dan memikirkan kehidupan orang lain,” ungkapnya dalam Obrolan Tauladan Pro 2 RRI Sanggau, Kamis 12 Maret 2026.

Abu Hasan menjelaskan, ketika zakat dipahami dari sisi sosialnya, generasi muda akan melihat bahwa ibadah tersebut tidak sekadar kewajiban formal yang harus ditunaikan setiap tahun. Ia mengatakan, zakat justru menjadi sarana untuk menumbuhkan empati, kepedulian, dan kesadaran kolektif terhadap berbagai persoalan sosial yang ada di lingkungan sekitar.

“Zakat itu wajib bagi yang mampu dan memiliki aturan serta perhitungan yang jelas. Sedangkan sedekah lebih luas karena bisa diberikan kepada siapa saja dan tidak terbatas pada materi,” jelasnya.

Ia mengatakan, zakat memiliki sistem distribusi yang jelas dan terstruktur, karena penyalurannya telah diperuntukkan bagi delapan golongan yang berhak menerimanya. Melalui mekanisme tersebut, zakat berpotensi menghadirkan dampak sosial yang lebih nyata dan merata sehingga mampu membantu mengurangi kesenjangan sosial serta memperkuat kesejahteraan masyarakat secara lebih berkeadilan.

“Jangan sampai kita menganggap zakat itu membuat harta kita berkurang. Sesungguhnya zakat adalah cara untuk membersihkan harta dan menjadi perisai bagi diri serta harta yang kita miliki,” ujarnya.

Menurutnya, jika zakat dapat dipahami dengan benar oleh generasi muda, maka kebiasaan berbagi akan tumbuh secara alami dalam kehidupan mereka. Dengan pemahaman ini menurutnya, dapat menjadikan zakat sebagai budaya positif yang terus hidup dalam masyarakat.

Abu Hasan mengajak generasi muda agar tidak menunda untuk berbagi hanya karena merasa belum mapan atau belum memiliki banyak harta. Ramadan dapat menjadi momentum awal bagi anak muda untuk membangun kebiasaan menjadikan zakat dan sedekah sebagai bagian dari gaya hidup yang sarat nilai kepedulian, sehingga keberkahannya tidak hanya dirasakan oleh diri sendiri tetapi juga memberi manfaat luas bagi masyarakat.