Tragedi Bunuh Diri Anak SD di Nusa Tenggara Timur, Panggilan untuk Perbaikan Sistem Pendidikan dan Perlindungan Sosial
JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Komisi X DPR Hetifah Sjaifudian menyatakan bahwa insiden bunuh diri seorang anak sekolah dasar di Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang diduga disebabkan oleh ketidakmampuan membeli buku dan pena, merupakan sinyal peringatan bagi negara.
Hetifah menegaskan bahwa peristiwa yang menyedihkan ini harus menjadi perhatian serius, bukan hanya sekadar duka cita. "Masya Allah. Tragedi ini bukan sekadar kabar duka, melainkan alarm keras bagi negara dan masyarakat," ujarnya.
Menurut Hetifah, kejadian ini sangat memilukan dan tidak dapat diterima di negara manapun. Ia menyoroti bahwa anak berusia 10 tahun seharusnya mendapatkan perlindungan dan dukungan, bukan sampai merasa putus asa hanya karena tidak mampu membeli perlengkapan sekolah yang harganya kurang dari Rp 10.000.
"Kasus ini menunjukkan pentingnya untuk mengoreksi sistem pendidikan, perlindungan sosial, dan kepedulian masyarakat terhadap anak-anak yang membutuhkan," katanya.
Hetifah menekankan bahwa pendidikan dasar seharusnya benar-benar gratis dan inklusif, tanpa memberikan beban tambahan kepada anak-anak dari keluarga miskin. Ia berpendapat bahwa ke depan, sistem pendidikan harus menjamin akses sekolah dasar gratis, termasuk perlengkapan belajar.
"Perlindungan sosial harus aktif dan tepat sasaran bagi keluarga-keluarga yang rentan, tanpa menunggu tragedi seperti ini terjadi," tambahnya. "Kepedulian sosial di sekolah dan masyarakat juga harus dibangun dengan kuat agar setiap anak yang mengalami kesulitan dapat segera mendapatkan bantuan dan tidak merasa sendirian dalam menghadapi kemiskinan," imbuhnya.
Dari laporan yang diterima, kejadian tragis ini melibatkan seorang siswa kelas IV berinisial YBS (10) yang diduga bunuh diri. Ia merasa putus asa setelah meminta uang kepada ibunya, MGT (47), untuk membeli buku dan pena, namun dijawab bahwa mereka tidak memiliki uang. Bagi keluarga ini, bahkan mendapatkan uang sebesar Rp 10.000 pun merupakan hal yang sulit.
MGT, seorang janda yang bekerja sebagai petani dan buruh serabutan, harus menafkahi lima anak. Untuk meringankan beban hidupnya, YBS diminta tinggal bersama neneknya yang berusia sekitar 80 tahun di sebuah pondok. Tak jauh dari pondok tersebut, YBS mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri di dahan pohon cengkih pada Kamis, 29 Januari 2026.
Kontak Bantuan
Bunuh diri dapat terjadi ketika seseorang mengalami depresi dan merasa tidak ada bantuan. Jika Anda atau seseorang yang Anda kenal mengalami masalah serupa, penting untuk mencari bantuan. Anda tidak sendirian.
Layanan konseling dapat menjadi pilihan untuk meringankan keresahan. Untuk mendapatkan layanan kesehatan jiwa atau alternatif layanan konseling, Anda dapat mengunjungi website Into the Light Indonesia.




