Sindikat Love Scamming Internasional Terungkap di Yogyakarta, Korban dari Empat Negara
Sumber Foto: Kompas.com
Kompas Negara

Sindikat Love Scamming Internasional Terungkap di Yogyakarta, Korban dari Empat Negara

YOGYAKARTA, KOMPAS.com – Polresta Yogyakarta telah mengungkap praktik love scamming internasional yang beroperasi di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Sindikat ini telah beroperasi selama satu tahun dan diperkirakan meraup keuntungan hingga Rp 10 miliar per bulan dari aktivitas penipuan yang dilakukan.

Kasatreskrim Polresta Yogyakarta, Kompol Rizky Adrian, menjelaskan bahwa sindikat ini mendekati konsumen dari luar negeri melalui aplikasi kencan daring. Mereka meminta pembayaran dalam bentuk koin yang digunakan dalam aplikasi tersebut. Setiap shift kerja diketahui mampu mengumpulkan sekitar 2 juta koin per bulan, yang setara dengan lebih dari Rp 10 miliar.

Modus Operandi Sindikat

Menurut Rizky, sindikat ini menggunakan aplikasi kloningan asal China bernama WOW, sementara PT Altair Trans Service bertindak sebagai penyedia karyawan yang menjalankan praktik penipuan ini. Tugas mereka termasuk mencari konsumen melalui aplikasi kencan daring dan mengirimkan konten pornografi.

Setiap kali konsumen membuka konten tersebut, mereka diwajibkan untuk membayar menggunakan koin dalam aplikasi. Konten yang disediakan oleh perusahaan telah disiapkan sebelumnya dan dapat diakses melalui perangkat yang disediakan. Semua konten yang disebar diambil dari internet.

Identitas Tersangka dan Penangkapan

Polresta Yogyakarta telah mengamankan enam orang tersangka di daerah Jalan Gito Gati, Sleman, yang berperan dalam skema love scamming ini. Tersangka terdiri dari:

  • R, 35 tahun, CEO/pemilik
  • H, 33 tahun, HRD
  • P, Project Manager
  • V, Tim Leader
  • G, 22 tahun, Tim Leader
  • M, Project Manager

Polisi juga sedang memburu warga negara asing (WNA) asal China yang diduga terlibat dalam sindikat ini. Identitas pemilik aplikasi yang menampung hasil kejahatan, bernama Zang Chi, telah diketahui. Pihak kepolisian telah berkoordinasi dengan Divisi Hubungan Internasional (Hubinter) Polri untuk berkomunikasi dengan Interpol dalam upaya pengejaran otak utama sindikat ini.