Sekolah Swasta di Yogyakarta Penuh hingga 2032, JPPI: Pemerintah Gagal Jamin Pendidikan Merata
Sumber Foto: Kompas.com
Kompas Negara

Sekolah Swasta di Yogyakarta Penuh hingga 2032, JPPI: Pemerintah Gagal Jamin Pendidikan Merata

Kondisi pendidikan di Yogyakarta menjadi sorotan setelah Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) mengungkapkan bahwa sejumlah sekolah swasta di wilayah tersebut telah mencapai kapasitas pendaftaran penuh hingga tahun 2032. Fenomena ini menjadi indikasi adanya ketidakmerataan dalam akses pendidikan berkualitas di Indonesia.

Indikasi Kegagalan Sistem Pendidikan

Koordinator Nasional JPPI, Ubaid Matraji, menyatakan bahwa situasi ini mencerminkan kegagalan negara dalam menjamin pendidikan yang bermutu dan merata. "Ketika orangtua harus berburu kursi sekolah sejak anak belum lahir, itu berarti akses pendidikan berkualitas menjadi barang langka," ujar Ubaid.

Ketimpangan Pendidikan di Indonesia

Ubaid menambahkan bahwa fenomena pendaftaran penuh di sekolah swasta memperlebar ketimpangan dalam kualitas pendidikan di Indonesia. Sekolah-sekolah favorit yang mayoritas merupakan institusi swasta hanya dapat diakses oleh keluarga yang memiliki kemampuan ekonomi, informasi, dan jaringan yang memadai. Sementara itu, anak-anak dari keluarga kurang mampu terpaksa menerima pendidikan yang tersedia tanpa memiliki pilihan untuk memilih yang terbaik.

Pentingnya Perhatian dari Pemerintah

Dengan banyaknya siswa yang mendaftar ke sekolah swasta, sementara sekolah negeri mengalami kekurangan siswa, Ubaid menilai bahwa kondisi ini memerlukan perhatian serius dari pemerintah. "Jika sekolah swasta dapat memenuhi kuota hingga 2030, sementara banyak sekolah negeri kekurangan murid, fasilitas, dan guru berkualitas, maka ada yang tidak beres dalam tata kelola sistem pendidikan kita," ungkapnya.

Kualitas Pendidikan yang Tidak Merata

Ubaid juga menekankan bahwa negara telah membiarkan kualitas pendidikan tumbuh secara tidak merata dan cenderung menyerahkan kualitas tersebut pada mekanisme pasar. Hal ini berpotensi mengakibatkan kesenjangan yang semakin lebar dalam akses dan kualitas pendidikan di Indonesia.

Contoh Kasus: SD Muhammadiyah Sapen

Salah satu sekolah swasta yang menjadi favorit di Yogyakarta adalah SD Muhammadiyah Sapen. Berdasarkan data dari Sistem Informasi Manajemen Talenta (SIMT) yang dikeluarkan oleh Pusat Prestasi Nasional, SD Muhammadiyah Sapen menempati peringkat kedua sebagai sekolah dasar paling berprestasi di Daerah Istimewa Yogyakarta dengan total prestasi sebanyak 375. Popularitasnya membuat banyak orangtua berlomba-lomba mendaftarkan anak-anak mereka untuk mendapatkan kursi di sekolah tersebut, yang saat ini telah penuh hingga tahun 2032.