Prediksi Suhu Panas Ekstrem pada 2050: Indonesia Terancam Dampak Besar
Sumber Foto: Kompas.com
Kompas Negara

Prediksi Suhu Panas Ekstrem pada 2050: Indonesia Terancam Dampak Besar

Studi terbaru dari Universitas Oxford memperkirakan bahwa pada tahun 2050, hampir setengah populasi dunia, yakni sekitar 3,79 miliar orang, akan hidup dalam kondisi panas ekstrem. Prediksi ini muncul seiring dengan kemungkinan pemanasan global yang mencapai suhu dua derajat Celsius di atas level pra-industri, yang menjadi perhatian global karena dampaknya yang luas.

Dalam studi yang diterbitkan di Nature Sustainability, para peneliti mengungkapkan bahwa jika ambang batas pemanasan global sebesar 1,5 derajat Celsius dilampaui, dampak dari kenaikan suhu ini akan dirasakan secara signifikan. Diperkirakan, populasi yang mengalami kondisi panas ekstrem akan meningkat hampir dua kali lipat, dari 23 persen (1,54 miliar orang) pada tahun 2010 menjadi 41 persen (3,79 miliar) pada tahun 2050.

Negara-negara yang Paling Terpengaruh

Beberapa negara yang diprediksi akan mengalami dampak paling parah dari panas ekstrem termasuk Republik Afrika Tengah, Nigeria, Sudan Selatan, Laos, dan Brasil. Di Asia, negara-negara seperti India, Indonesia, Bangladesh, Pakistan, dan Filipina akan menjadi yang paling terdampak. Indonesia, sebagai negara dengan iklim tropis, berpotensi menghadapi tantangan besar dalam menghadapi peningkatan suhu yang ekstrem.

Dampak di Negara Beriklim Dingin

Menariknya, negara-negara beriklim lebih dingin juga akan mengalami perubahan signifikan. Di Austria dan Kanada, jumlah hari sangat panas diprediksi akan meningkat lebih dari dua kali lipat, sementara Irlandia akan mengalami peningkatan sebesar 230 persen. Hal ini menjadi perhatian karena infrastruktur di negara-negara tersebut umumnya dirancang untuk kondisi cuaca dingin.

Pentingnya Langkah Adaptasi

Studi ini menunjukkan bahwa permintaan untuk pendinginan akan meningkat secara drastis, terutama di negara-negara seperti Brasil, Indonesia, dan Nigeria, yang banyak warganya belum memiliki akses ke sistem pendingin yang memadai. Dalam hal ini, langkah-langkah adaptasi mulai dari pemasangan pendingin udara di rumah-rumah perlu dilakukan segera. Dr. Jesus Lizana, penulis utama studi, menekankan pentingnya dekarbonisasi dan pengembangan strategi adaptasi yang lebih efektif untuk menghadapi tantangan ini.

Kesimpulan dan Tindakan yang Diperlukan

Studi ini menjadi peringatan akan dampak luas dari pemanasan global, yang tidak hanya mempengaruhi kesehatan dan pendidikan, tetapi juga dapat berkontribusi pada migrasi dan perubahan sosial lainnya. Untuk mencapai tujuan global emisi karbon nol bersih pada tahun 2050, perlu adanya tindakan nyata dari para pemimpin dan pembuat kebijakan untuk memastikan pembangunan berkelanjutan dan mengatasi permasalahan yang dihadapi akibat perubahan iklim.