Prabowo Ingatkan Jaksa Agar Tegas Tindak Pelanggaran Hutan
Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, memberikan peringatan kepada seluruh jaksa, dengan penekanan khusus pada Satuan Tugas (Satgas) Penertiban Kawasan Hutan (PKH), untuk tidak ragu dalam menindak perusahaan yang melanggar peraturan terkait penggunaan kawasan hutan. Peringatan tersebut disampaikan Prabowo saat menghadiri penyerahan uang hasil denda atas pelanggaran administratif kawasan hutan di Gedung Bundar Kejaksaan Agung, Jakarta Selatan, pada Rabu (24/12/2025).
Dalam pidatonya, Prabowo menegaskan pentingnya integritas para jaksa dalam menjalankan tugas mereka. Ia meminta agar jaksa tidak mudah terpengaruh oleh lobi-lobi dari pelanggar hukum. "Kita bentuk Satgas (PKH) terdiri dari banyak unsur penegak hukum, laksanakan tugas yang saya berikan. Jangan ragu-ragu, tidak pandang bulu, jangan mau dilobi sini, dilobi sana," ujarnya.
Prabowo mengibaratkan negara sebagai tubuh manusia yang tidak dapat bertahan jika terus-menerus mengalami kebocoran. "Berkali-kali saya katakan, negara itu ibarat badan manusia. Kekayaan, uang, dan segala kekayaan itu ibarat darah. Kalau badan manusia tiap hari bocor, di ujungnya, badan itu kolaps," katanya. Ia menekankan bahwa kebocoran kekayaan negara yang disebabkan oleh pencurian, penyelundupan, dan praktik korupsi dapat mengancam keberlangsungan negara.
Dalam kesempatan tersebut, Prabowo juga mengungkapkan capaian Satgas PKH yang berhasil menguasai kembali lahan perkebunan seluas 4.081.560,58 hektar dalam sepuluh bulan terakhir, melebihi target yang ditetapkan. Ia menyebutkan bahwa masalah penyimpangan penggunaan kawasan hutan telah berlangsung selama belasan hingga puluhan tahun dan mengharapkan agar tindakan tegas terus dilakukan untuk menanggulangi masalah ini.
Menurut Prabowo, praktik penyerobotan lahan dilakukan oleh pengusaha yang mengedepankan filosofi serakahnomics, yang percaya bahwa aparat negara dapat disogok. Ia menyerukan Satgas untuk berkomitmen dalam melayani masyarakat dan menjunjung tinggi integritas. "Manusia mati meninggalkan nama. Lebih baik kita nanti dipanggil Tuhan, membela kebenaran, membela rakyat, menyelamatkan masa depan bangsa kita," tuturnya.




