Persiapkan Asupan Gizi dan Cairan Saat Mudik di Bulan Puasa
Arahan News - JAKARTA, KOMPAS.com - Menjelang mudik biasanya orang mempersiapkan kendaraan sejak jauh-jauh hari, tetapi hanya sedikit yang memperhatikan kondisi fisiknya. Padahal, perjalanan ke kampung halaman membutuhkan kondisi fisik yang prima, apalagi dilakukan saat berpuasa.
Menurut dr.Yosua Marulita Manullang M.Ked (PD) Sp.PD, perjalanan mudik di saat berpuasa harus memperhatikan asupan cairan.
"Yang tidak boleh dilewatkan adalah untuk porsi minum, cairan. Karena setelah kita sahur sampai dengan waktu berbuka puasa itu kita tidak makan atau minum," jelas dr. Yosua dalam acara media gathering bertajuk "Ramadhan Revives: Strong Bones, Strong Bonds" bersama Siloam Hospitals Mampang di Jakarta Selatan, Selasa (10/3/2026).
Sering kali mudik membuat masyarakat abai terhadap porsi dan jenis makanan. Sebab, fokusnya sudah pada perjalanan mudik dan mempersiapan barang dan kendaraan.
Padahal, pola makan yang keliru saat sahur tidak hanya memicu rasa kantuk yang berbahaya bagi keselamatan berkendara, tetapi juga berisiko membangkitkan masalah kesehatan secara tiba-tiba.
Asupan gizi saat mudik di bulan puasa
1. Sahur bergizi untuk cegah hipoglikemia
Lihat Foto
Menurut dr. Yosua, energi dan cairan yang diperlukan sepanjang perjalanan mudik berasal dari waktu makan sahur dengan asupan bergizi seimbang.
Kekurangan cairan tubuh dan gula darah yang merosot tajam atau hipoglikemia adalah dua ancaman utama selama mengemudi. Waspadai rasa pusing dan juga lemas saat berkendara. Gejala awal kondisi medis ini pantang untuk diremehkan oleh pemudik.
"Hipoglikemi itu pasti tanda pertamanya adalah kita merasa seperti lemas, pusing, pandangan itu seperti berkunang-kunang, atau bahkan kalau sudah masuk ke dalam hipoglikeminya yang berat bisa sampai seperti mau pingsan," terang dr. Yosua.
2. Waspadai kantuk akibat "sugar crash"
Saat waktu berbuka tiba, ada kecenderungan pemudik langsung mengonsumsi makanan tinggi karbohidrat atau minuman manis berlebihan. Kebiasaan ini justru memicu efek bumerang bagi metabolisme tubuh dan kelancaran menyetir.
"Di saat sudah puasa, terus kita berbukanya langsung dengan tinggi karbohidrat, tinggi gula, justru bisa menyebabkan lonjakan gula darah. Hal ini yang akan menjadi sugar crash nih di dalam tubuh. Akibatnya buat pemudik itu bisa berdampak jadi ngantuk," papar dr. Firisha Virgidewi Witjaksono, Sp.GK.
Lihat Foto
Lonjakan gula darah yang terlalu tinggi bsia menyebabkan produksi insulin terjadi dengan cepat, sehingga gula darah menurun dengan cepat juga. Kadar gula darah yang "terjun bebas" ke bawah batas normal bisa menyebabkan seseorang mengalami rasa kantuk yang luar biasa berat.
Bagi mereka yang masih jauh dari kampung halaman saat jam buka puasa tiba, tentunya rasa kantuk tersebut adalah hal yang harus dihindari karena bisa mencelakakan diri dan orang lain.
"Jadi, apa yang kita makan, baik saat sahur maupun saat buka puasa, itu sangat memmengaruhi fokus kita," tambah dr. Sasha.
3. Buka puasa perlahan dan batasi gorengan
Dokter Sasha juga mengingatakan agar para pemudik berbuka puasa secara perlahan. Artinya, tidak langsung mengonsumsi banyak makanan dalam satu waktu. Jangan lupa untuk tetap memerhatikan kandungan gizi dari apapun yang dikonsumsi saat berbuka untuk menghindari rasa kantuk.




