Pemulihan Aceh Pasca Bencana: Desa Hilang dan Infrastruktur Hancur, Warga Menanti Dukungan Negara
Sumber Foto: Kompas.com
Kompas Negara

Pemulihan Aceh Pasca Bencana: Desa Hilang dan Infrastruktur Hancur, Warga Menanti Dukungan Negara

Setelah tragedi banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Aceh pada akhir November 2025, dampak yang ditinggalkan sangat mendalam. Ribuan rumah hilang, ratusan desa terpaksa lumpuh, dan infrastruktur mengalami kerusakan parah, meninggalkan puluhan ribu warga dalam kondisi darurat yang memprihatinkan.

Di Kabupaten Aceh Tamiang, situasi semakin memprihatinkan. Bupati Aceh Tamiang, Armia Fahmi, melaporkan bahwa seluruh 12 kecamatan dan 216 desa di wilayahnya terpengaruh bencana ini. "Semua sektor kehidupan di daerah kami berhenti. Pemerintahan, TNI-Polri, dan ekonomi mengalami lumpuh total," ujarnya dalam rapat koordinasi Satuan Tugas Pemulihan Pascabencana Sumatera di Aceh pada 30 Desember 2025.

Armia menyatakan bahwa meskipun kondisi sangat sulit, pemerintah daerah tidak tinggal diam. "Selama lebih dari satu bulan, kami berupaya untuk bangkit dengan dukungan dari berbagai pihak, termasuk BNPB, TNI, dan Polri," tambahnya.

Dampak terburuk dari bencana ini adalah hilangnya permukiman warga. Armia mengungkapkan bahwa sedikitnya 4.839 rumah di Aceh Tamiang hilang akibat banjir, terutama di daerah bantaran sungai. "Kondisi ini masih dinamis, namun kami mencatat bahwa banyak desa, terutama yang berada di pinggir sungai, benar-benar hilang," jelasnya.

Selain rumah yang hilang, kerusakan bangunan juga terjadi dalam skala besar. Sekitar 8.509 rumah mengalami kerusakan berat, 9.366 rumah rusak sedang, dan 15.174 rumah mengalami kerusakan ringan. Dalam keadaan ini, Armia mengaku tertekan melihat kondisi warganya. "Setiap kali melihat langsung, saya tidak bisa menahan emosi, karena saya adalah bagian dari mereka," ungkapnya.

Armia berkomitmen untuk tetap berada di tengah masyarakat dan menjalankan tanggung jawabnya dalam proses pemulihan. Dia menyatakan, "Saya akan terus memantau dan membantu selama enam bulan ke depan untuk memastikan semua tuntas."

Bencana ini juga merusak infrastruktur vital. Empat jembatan utama di daerah tersebut, termasuk di Desa Baleng Karang, Pematang Durian, Lubuk Sidup, dan Desa Pangkalan, mengalami kerusakan parah sehingga mempersulit akses dan pemulihan.

Dengan kondisi yang masih memprihatinkan, masyarakat Aceh Tamiang kini menanti kehadiran negara yang lebih nyata dalam mendukung upaya pemulihan dan rekonstruksi wilayah yang terdampak bencana ini.