Pemerintah Diminta Segera Selesaikan Sekolah Tenda di Sumatera Sebelum Lebaran
Sumber Foto: Kompas.com
Kompas Negara

Pemerintah Diminta Segera Selesaikan Sekolah Tenda di Sumatera Sebelum Lebaran

JAKARTA – Wakil Ketua Komisi X DPR, Lalu Hadrian Irfani, mendesak pemerintah untuk segera menyelesaikan masalah siswa yang masih belajar di tenda akibat bencana di Sumatera. Ia menekankan pentingnya revitalisasi seluruh sekolah yang rusak sebelum Lebaran Idul Fitri 2026.

"Apapun kendalanya, harus segera dituntaskan. Minimal sebelum Lebaran ini, semua urusan yang berkaitan dengan pendidikan harus selesai, agar tidak mengganggu proses belajar mengajar," ungkap Ari saat ditemui di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, pada Jumat (20/2/2026).

Ari menjelaskan bahwa meskipun saat ini aktivitas belajar sudah aktif 100 persen, hal tersebut masih berlangsung di tenda dan bukan di sekolah yang seharusnya. Ia meminta agar sekolah-sekolah yang hancur segera dibangun kembali, sementara yang masih bisa dipakai perlu direhabilitasi secepatnya.

Dalam rapat koordinasi terakhir bersama para menteri, DPR telah menekankan bahwa proses rehabilitasi dan revitalisasi sekolah harus selesai sebelum Lebaran. Ari menyebutkan bahwa Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) telah menyatakan kesiapan untuk memenuhi permintaan tersebut.

Namun, Ari juga mengingatkan bahwa tantangan di lapangan masih ada, seperti ketidakcocokan antara perencanaan dan kondisi di lapangan. "Data yang diterima, misalnya, laporan menunjukkan ada 100 sekolah yang terdampak, tetapi di lapangan jumlahnya bisa lebih dari itu. Ini menjadi kendala yang harus diatasi," tambahnya.

Sebelumnya, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti, mengungkapkan bahwa saat ini ada 99 sekolah yang masih harus belajar di tenda atau kelas darurat. Meskipun demikian, beberapa sekolah sudah mulai beroperasi kembali di lokasi asal setelah proses pembersihan selesai.

Mu'ti merinci bahwa terdapat 5 sekolah di Aceh, 21 sekolah di Sumatera Barat, dan 26 sekolah di Sumatera Utara yang masih dalam kondisi darurat. Selain itu, ada 22 sekolah yang saat ini menumpang di sekolah lain karena bangunan mereka hancur, dengan rincian 20 sekolah di Aceh dan 2 di Sumatera Barat.

Secara umum, Mu'ti menyampaikan bahwa kegiatan pembelajaran di tiga provinsi yang terdampak bencana telah berlangsung 100 persen. Namun, ia juga mengakui bahwa kondisi pembelajaran belum ideal, di mana masih banyak siswa yang harus duduk di lantai dan menerapkan sistem shifting atau gantian dalam proses belajar mengajar.