Ketergantungan Impor Membuat Ekonomi Indonesia Rentan, INDEF Soroti Kemandirian
JAKARTA – Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) mengungkapkan bahwa ketergantungan Indonesia terhadap impor menjadikan perekonomian negara ini rentan terhadap gejolak geopolitik. Peneliti INDEF, Esther Sri Astuti, menyatakan bahwa dampak kenaikan tarif impor dari Amerika Serikat telah memberi tekanan yang signifikan tidak hanya bagi Indonesia tetapi juga bagi banyak negara lain, termasuk beberapa negara di Asia Tenggara.
Menurut Esther, negara-negara seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand memiliki fondasi ekonomi yang lebih kuat, sehingga lebih tahan terhadap dampak tersebut. Sementara itu, Indonesia berada dalam posisi yang lebih rentan karena ketergantungan yang tinggi terhadap pasokan luar negeri.
"Tingkat kerentanan kita lebih tinggi karena ketergantungan terhadap dunia luar ini masih besar," ungkap Esther dalam Diskusi Publik Catatan Akhir Tahun INDEF.
Salah satu dampak dari ketergantungan ini adalah cepatnya penggunaan cadangan devisa yang disebabkan oleh volume impor yang tinggi. Arus keluar devisa lebih besar dibandingkan dengan akumulasi dari ekspor, yang membuat ekonomi domestik sensitif terhadap guncangan global. "Ketika ekonomi dunia melambat, pertumbuhan nasional kita juga akan terhambat," tambahnya.
INDEF menekankan pentingnya pemerintah untuk mengubah arah kebijakan dengan fokus pada penguatan kemandirian ekonomi, pangan, dan energi. "Kemandirian ini harus menjadi tolok ukur keberhasilan kita," jelas Esther.
Selain itu, Esther juga mencatat bahwa minat investasi di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan. Kebijakan dan stimulus yang ada belum sepenuhnya menjawab kebutuhan investor, yang memerlukan kepastian terkait infrastruktur dasar seperti pasokan energi, air, dan konektivitas.
Sektor pariwisata pun tidak luput dari masalah serupa, di mana akses transportasi dan koneksi penerbangan dinilai belum memadai untuk mendorong arus investasi. Di sisi lain, struktur ketenagakerjaan yang didominasi sektor informal dan kesenjangan keterampilan juga membatasi serapan tenaga kerja formal.
Perlambatan pertumbuhan di beberapa sektor juga terlihat seiring dengan penurunan belanja barang dan jasa pemerintah. Alokasi anggaran negara saat ini difokuskan pada program-program prioritas, seperti Makan Bergizi Gratis dan Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih, yang berpotensi mengakibatkan perlambatan di sektor-sektor lainnya.
Pemerintah kini berupaya untuk mengurangi ketergantungan impor, terutama dalam sektor pangan dan energi. Sebagai contoh, pembangunan Sentra Industri Garam Nasional di Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur, menjadi salah satu langkah untuk meningkatkan kemandirian dalam komoditas garam. Di sektor energi, pemerintah juga mendorong peningkatan penggunaan biodiesel berbasis sawit sebagai pengganti solar impor.




