Kementerian Kebudayaan: Kebudayaan Berpotensi Jadi Sumber Pendapatan Negara yang Berkelanjutan
Sumber Foto: Kompas.id
Kompas Negara

Kementerian Kebudayaan: Kebudayaan Berpotensi Jadi Sumber Pendapatan Negara yang Berkelanjutan

Eksplorasi nilai-nilai kebudayaan dinilai sebagai investasi jangka panjang yang berdampak luas, baik secara materi maupun imateri. Selain membentuk identitas bangsa, kebudayaan juga disebut menyimpan potensi besar sebagai sumber pendapatan negara pada masa depan.

Pandangan tersebut disampaikan Direktur Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Kementerian Kebudayaan, Restu Gunawan, dalam pameran jurnalistik bertajuk “Mewarisi Masa Lalu, Membentuk Masa Depan” di Bentara Budaya Jakarta, Senin (30/6/2025). Restu menekankan bahwa kebudayaan berkaitan dengan masa lalu, masa kini, dan masa depan, serta memiliki karakter yang berbeda dibanding sumber daya alam yang bisa habis.

“Kalau kita hanya mengeksploitasi tambang dan sebagainya, itu akan cepat habis. Akan tetapi, kebudayaan semakin dieksploitasi semakin menghasilkan,” ujar Restu.

Strategi pemajuan kebudayaan dalam RPJM 2025–2029

Menurut Restu, pemerintah telah menyusun strategi pemajuan kebudayaan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJM) 2025–2029. Arah kebijakan ini ditujukan agar kebudayaan tidak hanya diposisikan sebagai objek pelestarian, melainkan juga sebagai subjek pembangunan.

  • Pengembangan bahasa dan sastra
  • Pelestarian warisan budaya
  • Jaminan hak-hak kebudayaan dan ekspresi budaya
  • Pemberdayaan masyarakat adat

Restu menyatakan, dengan kebijakan yang tepat dan berkelanjutan, sektor kebudayaan dapat menjadi sumber daya baru yang tak tergantikan pada masa depan.

Peran media massa dalam penyebaran nilai budaya

Penguatan karakter bangsa melalui diplomasi kebudayaan dan internalisasi jati diri juga disebut menjadi bagian penting dari strategi pemajuan kebudayaan. Restu menegaskan, peran ini tidak dapat hanya diemban pemerintah.

Ia menilai media massa memiliki posisi strategis karena jangkauannya yang luas dan kemampuannya membentuk opini publik. Menurutnya, media dapat berperan krusial untuk menyebarkan nilai-nilai kebudayaan kepada masyarakat, sekaligus mendorong upaya menggali kekayaan peradaban yang belum sepenuhnya terungkap.

Jurnalisme kebudayaan dan dampak ekonomi di tingkat lokal

Dalam kesempatan yang sama, Pemimpin Redaksi Harian Kompas Haryo Damardono menjelaskan bahwa peran media massa adalah mengumpulkan informasi dengan turun langsung ke titik informasi, mengurasinya, lalu mengabarkannya kepada masyarakat. Ia menekankan bahwa setiap sentuhan manusia dalam praktik kebudayaan perlu digambarkan secara jelas oleh wartawan.

Haryo juga mencontohkan manfaat ekonomi yang dirasakan masyarakat melalui praktik kebudayaan. Di Jatiluwih, Tabanan, organisasi subak menyisihkan 4 persen dari hasil penjualan tiket wisata untuk mendukung kelompok petani subak abian di wilayah hulu.

Contoh tersebut menunjukkan bagaimana nilai budaya lokal dapat menopang ekosistem ekonomi yang lebih adil dan berkelanjutan. Dengan strategi yang terarah serta sinergi pemerintah, masyarakat, dan media, kebudayaan dinilai tidak hanya menjadi warisan, tetapi juga aset bagi masa depan bangsa.