Kematian Khamenei dan Implikasinya bagi Iran
Sumber Foto: Kompas.com
Kompas Negara

Kematian Khamenei dan Implikasinya bagi Iran

Arahan News - Presiden Amerika Serikat Donald Trump melalui platform Truth Social mengklaim bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, telah meninggal dunia. Klaim ini memicu pertanyaan besar mengenai masa depan Republik Islam Iran, terutama terkait keberlangsungan sistem yang telah ada sejak 1979.

Awal Kejadian

Sejak awal berdirinya Republik Islam, sistem ini dirancang untuk melampaui sosok individu. Ayatollah Ruhollah Khomeini, pendiri Republik Islam, menekankan bahwa negara harus lebih penting daripada siapa pun yang memimpinnya. Namun, kekhawatiran muncul mengenai bagaimana militer Iran akan merespons jika tidak ada lagi otoritas tunggal yang memimpin.

Perkembangan

Upaya untuk membongkar struktur komando Iran bukanlah hal baru. Pada Juni 2025, Israel dilaporkan melakukan serangan siber yang menargetkan pimpinan militer senior Iran, termasuk Komandan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC). Meskipun serangan tersebut menyebabkan kekosongan dalam kepemimpinan, sistem komando Iran diketahui dapat menggantikan posisi-posisi yang hilang dalam waktu singkat. Iran juga mendelegasikan wewenang peluncuran rudal kepada perwira berpangkat lebih rendah, yang memungkinkan operasi tetap berjalan meski tanpa pemimpin tertinggi. Namun, dalam sembilan bulan terakhir, beberapa posisi komando senior dilaporkan kosong akibat serangan, menciptakan ketidakpastian dalam struktur kepemimpinan.

Kondisi Terakhir

Apabila Khamenei benar-benar meninggal, terdapat beberapa skenario yang mungkin terjadi. Pertama, konsolidasi IRGC dengan kepemimpinan kolektif sementara diperkirakan memiliki peluang sekitar 35 persen. Kedua, kemungkinan perebutan kekuasaan antara faksi-faksi yang ada diperkirakan 30 persen, yang dapat menimbulkan ketidakpastian jangka panjang. Ketiga, ada kemungkinan pemberontakan rakyat sebesar 25 persen, meskipun belum ada alternatif politik terorganisir. Terakhir, skenario keruntuhan total negara diperkirakan 10 persen. Dalam semua skenario tersebut, diperlukan waktu antara 60 hingga 90 hari sebelum pusat kekuasaan baru dapat bernegosiasi atau memberikan perintah. Di tengah ketidakpastian ini, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa Khamenei masih hidup, namun frasa tersebut menunjukkan adanya gangguan dalam rantai komando. Pertanyaan mendasar yang muncul adalah siapa yang akan memiliki kewenangan untuk menghentikan operasi peluncuran rudal yang telah didelegasikan.