Indonesia Menempati Peringkat Kedua Negara dengan Bahasa Terbanyak di Dunia
Sumber Foto: Kompas.com
Kompas Negara

Indonesia Menempati Peringkat Kedua Negara dengan Bahasa Terbanyak di Dunia

Indonesia menempati posisi kedua dari sepuluh negara di dunia yang memiliki jumlah bahasa terbanyak, dengan lebih dari 700 bahasa yang digunakan. Hasil ini menunjukkan betapa kaya dan beragamnya budaya serta bahasa yang ada di Indonesia.

Di puncak daftar tersebut, Papua Nugini mencatatkan diri sebagai negara dengan keragaman bahasa tertinggi, dengan lebih dari 800 bahasa. Hal ini menjadikan Papua Nugini sebagai negara tetangga yang menarik untuk diteliti dari segi linguistik.

Peran dan Fungsi Bahasa

Bahasa merupakan sistem lambang bunyi yang digunakan oleh masyarakat untuk berkomunikasi, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri. Fungsi bahasa secara umum mencakup komunikasi, ekspresi identitas, permainan, ekspresi imajinatif, dan pelepasan emosi. Dengan ribuan bahasa yang tersebar di berbagai penjuru dunia, para ilmuwan memperkirakan terdapat lebih dari 7.100 bahasa yang digunakan saat ini, menurut data dari peneliti Ethnologue.

Daftar 10 Negara dengan Bahasa Terbanyak di Dunia

  • Papua Nugini: 841 bahasa
  • Indonesia: 721 bahasa
  • Nigeria: 538 bahasa
  • India: 459 bahasa
  • Amerika Serikat: 364 bahasa
  • Australia: 320 bahasa
  • China: 308 bahasa
  • Meksiko: 304 bahasa
  • Kamerun: 281 bahasa
  • Brasil: 240 bahasa

Data ini mencerminkan jumlah bahasa yang ada di negara-negara tersebut hingga tahun 2024, termasuk bahasa yang sudah mapan serta bahasa imigran.

Keragaman Bahasa di Papua Nugini

Papua Nugini memiliki sekitar 840 bahasa, dengan populasi penuturnya yang beragam. Negara ini memiliki tiga bahasa resmi, yaitu bahasa Inggris, Tok Pisin, dan Hiri Motu. Menariknya, sejak tahun 2015, bahasa isyarat juga diakui sebagai bahasa resmi di Papua Nugini.

Keragaman bahasa di Papua Nugini dipengaruhi oleh faktor geografi dan topografi negara kepulauan tersebut. Medan yang sulit dan lembah-lembah yang terpisah menyebabkan pemisahan suku dan klan, sehingga menghasilkan sejumlah bahasa dan dialek yang berbeda di antara populasi yang mencapai 9,4 juta jiwa.