Indonesia Bergabung dengan Dewan Perdamaian Trump Setelah Konsultasi dengan Tujuh Negara Muslim
JAKARTA - Indonesia telah memutuskan untuk bergabung dengan Board of Peace atau Dewan Perdamaian yang diinisiasi oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Keputusan ini merupakan hasil dari proses konsultasi yang panjang dan melibatkan tujuh negara dengan mayoritas populasi Muslim.
Hal ini diungkapkan oleh mantan Menteri Luar Negeri, Hasan Wirajuda, setelah mendapatkan penjelasan langsung dari Menteri Pertahanan Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan Jakarta pada Rabu, 4 Februari 2026.
"Ketika kita akhirnya memutuskan untuk bergabung, kita telah melalui proses konsultasi yang erat dengan tujuh negara Islam," kata Hasan. Negara-negara tersebut meliputi Republik Turkiye, Republik Arab Mesir, Kerajaan Hashemite Yordania, Republik Islam Pakistan, Negara Qatar, Kerajaan Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.
Tujuan Bergabung dengan Dewan Perdamaian
Dalam pertemuan tersebut, Prabowo menjelaskan bahwa tujuan utama Indonesia bergabung dengan Board of Peace adalah untuk berkontribusi dalam penyelesaian masalah Palestina, khususnya di Gaza. Menurutnya, keterlibatan Indonesia dan negara-negara mayoritas Muslim lainnya diharapkan dapat memberikan pengaruh positif dalam proses penyelesaian konflik tersebut.
Hasan menambahkan bahwa delapan negara mayoritas Islam ini dapat berfungsi sebagai kekuatan penyeimbang terhadap keputusan yang diambil dalam Board of Peace. "Memang ada kekhawatiran bahwa Trump akan memainkan peran yang tidak terkontrol, tetapi setidaknya delapan negara ini bisa menyeimbangkan proses di dalam Dewan Perdamaian," ujarnya.
Pertemuan dengan Para Mantan Pejabat
Prabowo juga mengumpulkan para mantan menteri luar negeri dan mantan wakil menteri luar negeri untuk berdiskusi mengenai situasi global, termasuk keanggotaan Indonesia dalam Board of Peace. Pertemuan tersebut berlangsung selama sekitar tiga jam di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta.
Beberapa mantan menteri luar negeri yang hadir dalam pertemuan tersebut antara lain Retno Marsudi, Alwi Shihab, dan Marty Natalegawa. Selain itu, mantan wakil menteri luar negeri seperti Dino Pati Djalal dan Arif Havas Oegroseno juga turut berpartisipasi.




