INDEF: Kebijakan Tarif Resiprokal AS Lebih Fokus pada Defisit Perdagangan
Sumber Foto: Kompas.com
Kompas Negara

INDEF: Kebijakan Tarif Resiprokal AS Lebih Fokus pada Defisit Perdagangan

Arahan News - Kebijakan tarif resiprokal yang diterapkan Amerika Serikat (AS) lebih ditujukan untuk mengurangi defisit perdagangan ketimbang membuka akses pasar yang seimbang bagi negara mitra, termasuk Indonesia. Hal ini disampaikan oleh peneliti Pusat Industri, Perdagangan, dan Investasi di INDEF, Ahmad Heri Firdaus.

Awal Kejadian

Dalam diskusi daring mengenai Untung Rugi Perjanjian Dagang AS-RI, Heri menjelaskan bahwa langkah AS ini merupakan bagian dari strategi untuk mengatasi defisit perdagangan yang telah melebihi 1 triliun dollar AS. Ia menyebut bahwa AS berusaha mengurangi defisit tersebut dengan cara meningkatkan ekspor ke negara-negara seperti Indonesia.

Perkembangan

Indonesia tercatat sebagai salah satu negara yang berkontribusi pada defisit perdagangan AS, meski berada di urutan ke-15 secara global. Selain itu, besarnya belanja pemerintah AS juga menjadi faktor pendorong pencarian sumber penerimaan tambahan melalui penguatan posisi perdagangan dengan negara mitra. Heri menekankan perlunya mencermati implikasi kebijakan ini terhadap kinerja ekspor nasional, terutama mengingat bahwa AS merupakan salah satu pasar utama bagi ekspor nonmigas Indonesia, dengan kontribusi sekitar 10 hingga 11 persen terhadap total ekspor nonmigas.

Kondisi Terakhir

Namun, daya saing produk Indonesia di pasar global masih terhambat oleh struktur biaya produksi yang lebih tinggi dibandingkan negara pesaing seperti Vietnam dan Malaysia. Hal ini berpotensi mengakibatkan produk Indonesia kalah bersaing di pasar, meskipun mendapatkan fasilitas tarif yang lebih rendah. Heri juga mencatat bahwa kebijakan perdagangan global yang semakin proteksionis dapat mengalihkan arus perdagangan, sehingga meningkatkan persaingan bagi industri dalam negeri. Untuk itu, diversifikasi pasar ekspor dan penguatan pasar domestik dianggap penting untuk menjaga pertumbuhan ekonomi, serta peningkatan efisiensi dan penurunan biaya produksi menjadi kunci untuk memperkuat daya saing industri Indonesia.