Diplomasi Personal Prabowo Berperan dalam Penurunan Tarif Impor AS untuk Indonesia
JAKARTA - Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya menyatakan bahwa kedekatan personal antar pemimpin negara menjadi faktor penting dalam mencapai perjanjian antar negara. Hal ini disampaikan Teddy dalam konteks perjanjian tarif timbal balik atau tarif resiprokal (Agreement on Reciprocal Trade/ART) antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS).
Dalam sebuah unggahan di Instagram @sekretariat.presiden, Teddy menegaskan pentingnya diplomasi personal untuk mencapai kesepakatan yang saling menguntungkan. "Dalam perundingan antar negara, kedekatan personal diperlukan untuk memperoleh kesepakatan bersama yang saling menguntungkan kedua belah pihak," ujarnya.
Teddy juga menggarisbawahi peran Presiden Prabowo Subianto yang secara aktif melakukan pendekatan langsung kepada kepala negara lain. "Presiden Prabowo melakukan perannya sebagai seorang kepala negara/pemerintahan melalui diplomasi langsung dan kedekatan personal ke setiap kepala negara," tambahnya.
Kesepakatan dagang tarif resiprokal antara Indonesia dan AS ini dianggap sebagai sebuah momen bersejarah. Penandatanganan perjanjian tersebut dilakukan oleh Presiden Prabowo dan Presiden AS Donald Trump di tengah kunjungan Prabowo ke Washington DC, pada Kamis (19/2/2026).
Teddy menjelaskan bahwa perjanjian ini tidak hanya melibatkan pembicaraan terbuka, namun juga terdapat diskusi tertutup yang bertujuan untuk memaksimalkan keuntungan yang dapat diperoleh bagi masyarakat Indonesia. "Tentu di dalam perjanjian ada pembicaraan tertutup antara kedua belah pihak yang tujuannya untuk sebesar-besarnya memberikan keuntungan kepada seluruh rakyat Indonesia," tuturnya.
Dari perjanjian ini, tarif impor yang dikenakan oleh AS terhadap barang-barang asal Indonesia ditetapkan sebesar 19 persen. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan perdagangan dan memberikan manfaat bagi perekonomian Indonesia.




