Dampak Perubahan Iklim Terhadap Harga dan Produksi Kopi Global
Perubahan iklim yang semakin meningkat dapat berdampak signifikan terhadap produksi dan harga kopi di seluruh dunia. Analisis terbaru terhadap 25 negara penghasil kopi menunjukkan bahwa negara-negara tersebut mengalami peningkatan suhu yang merugikan bagi tanaman kopi, yang berpotensi memengaruhi kualitas dan kuantitas panen.
Menurut analisis yang dilakukan oleh organisasi penelitian iklim, Climate Central, setiap negara penghasil kopi rata-rata mengalami tambahan 47 hari dalam setahun dengan suhu berbahaya bagi tanaman kopi selama periode 2021 hingga 2025. Peningkatan hari-hari panas ini terkait erat dengan emisi bahan bakar fosil yang terus meningkat.
Negara Penghasil Kopi Terbesar Mengalami Suhu Ekstrem
Lima negara penghasil kopi terbesar di dunia—Brasil, Vietnam, Kolombia, Ethiopia, dan Indonesia—mencatat rata-rata 57 hari tambahan per tahun dengan suhu berbahaya. Negara Brasil, yang merupakan penghasil kopi terbesar, mengalami rata-rata 70 hari suhu ekstrim setiap tahunnya, yang berdampak langsung pada industri kopi di negara tersebut.
Kopi merupakan minuman yang sangat populer, dengan konsumsi lebih dari dua miliar cangkir setiap harinya di seluruh dunia. Namun, harga kopi global telah mengalami fluktuasi yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir, mencapai rekor tertinggi pada bulan Desember 2024 dan Februari 2025, yang sebagian besar disebabkan oleh cuaca ekstrem.
Analisis Suhu dan Dampaknya
Analisis yang dilakukan oleh Climate Central membandingkan suhu aktual antara tahun 2021 hingga 2025 dengan simulasi kondisi tanpa polusi karbon menggunakan Climate Shift Index. Penelitian ini menunjukkan berapa banyak "hari tambahan" dalam setahun ketika suhu melonjak di atas ambang batas 30 derajat Celsius, yang berpotensi merusak tanaman kopi.
Tanaman kopi tumbuh optimal pada rentang suhu dan curah hujan tertentu. Ketika suhu melebihi ambang batas ini, tanaman mengalami stres panas yang dapat menurunkan hasil panen, merusak kualitas biji kopi, serta meningkatkan kerentanan terhadap penyakit. Gabungan dari dampak-dampak ini dapat mengurangi pasokan dan kualitas kopi, yang pada akhirnya memicu kenaikan harga kopi di pasar global.
Salah satu varietas yang paling banyak dibudidayakan, yaitu kopi arabika, menyumbang sekitar 60-70 persen pasokan kopi global dan lebih sensitif terhadap suhu panas dibandingkan varietas robusta. Penelitian menunjukkan bahwa suhu yang lebih dingin di kisaran 25-30 derajat Celsius masih kurang optimal untuk pertumbuhan tanaman arabika.




