Bencana Demografi di Indonesia: Tantangan Keterlibatan Generasi Muda dalam Perekonomian
Sumber Foto: Kompas.com
Kompas Negara

Bencana Demografi di Indonesia: Tantangan Keterlibatan Generasi Muda dalam Perekonomian

Indonesia saat ini menghadapi tantangan serius terkait bonus demografi. Meskipun negara ini mengalami pertumbuhan industri, generasi muda justru tertinggal. Lebih dari 20 persen anak muda di Indonesia tidak terlibat dalam pendidikan, pelatihan, atau pekerjaan, angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan negara-negara tetangga seperti Malaysia, Thailand, Filipina, dan Vietnam yang berada di bawah 15 persen.

Kendala Transisi Pendidikan ke Dunia Kerja

Tingginya proporsi anak muda yang tidak bekerja, tidak bersekolah, dan tidak mengikuti pelatihan mencerminkan lemahnya sistem transisi pendidikan ke dunia kerja di Indonesia. Direktur Kolaborasi Internasional INDEF, Imaduddin Abdullah, menyatakan bahwa kondisi ini seharusnya menjadi perhatian serius bagi pemerintah. Menurutnya, situasi yang dihadapi saat ini bukan lagi sekadar lelucon tentang 'bencana demografi', tetapi sudah menjadi kenyataan yang harus ditangani.

Tantangan Keterhubungan Ekonomi dan Generasi Muda

Meski pertumbuhan ekonomi Indonesia menunjukkan angka positif, ada kesenjangan yang signifikan antara pertumbuhan tersebut dan penyerapan tenaga kerja dari kalangan muda. Permasalahan utama terletak pada kurangnya pelatihan berbasis industri dan kemampuan tenaga kerja muda untuk memenuhi kebutuhan pasar. Anak muda, yang seharusnya menjadi penggerak ekonomi, justru tidak terlibat secara aktif dalam memajukan perekonomian nasional.

Produktivitas Industri yang Tertinggal

Di sisi lain, produktivitas industri Indonesia juga menunjukkan angka yang tidak menggembirakan, dengan nilai tambah per pekerja yang lebih rendah dibandingkan negara-negara tetangga. Imaduddin mencatat bahwa produktivitas sektor industri China, yang pada tahun 1998 berada di bawah Indonesia, kini hampir dua kali lipat dari Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa industrialisasi di Indonesia belum didukung oleh peningkatan teknologi dan keterampilan yang memadai.

Penciptaan Lapangan Kerja yang Melemah

Tren penciptaan lapangan kerja di sektor manufaktur juga menunjukkan penurunan yang signifikan. Pertumbuhan industri tidak sebanding dengan penyerapan tenaga kerja, dan pola ini mengarah pada apa yang dikenal sebagai 'jobless industrialization', di mana pertumbuhan industri semakin padat modal. Beberapa subsektor, seperti tekstil dan industri kayu, mengalami pertumbuhan yang lebih rendah dari pertumbuhan ekonomi nasional, bahkan ada yang mengalami penurunan.

Kualitas Pekerjaan yang Buruk

Meskipun produk domestik bruto (PDB) telah pulih pasca-pandemi Covid-19, upah riil tidak menunjukkan perbaikan. Banyak pekerja yang kehilangan status penuh waktu, sementara pekerja yang setengah menganggur justru meningkat. Imaduddin mengingatkan bahwa meskipun angka pengangguran menunjukkan penurunan, kualitas tenaga kerja dan lapangan pekerjaan yang tersedia mungkin tidak sebaik yang ditampilkan.