Tumpukan Sampah di Pasar Pagi Subulussalam: Tantangan Tata Kelola Ruang Publik
Ada yang berbeda dari pagi di Pasar Pagi Subulussalam. Bukan hanya riuh tawar-menawar atau langkah tergesa orang-orang yang mengejar waktu. Ada pemandangan yang setiap hari makin terasa biasa, padahal sesungguhnya tidak pernah layak untuk dibiasakan: tumpukan sampah yang menggunung di pembatas jalan, tepat di tengah jalur dua arah.
Sampah itu tidak lagi sekadar teronggok rapi. Ia meluber. Kantong plastik berisi limbah rumah tangga, sisa sayuran, kardus, hingga sampah pasar bercampur menjadi satu. Sebagiannya jatuh ke badan jalan, terseret roda kendaraan, mengganggu laju motor dan mobil yang melintas.
Bau menyengat menyeruak, bercampur dengan asap kendaraan dan terik matahari pagi. Di jam-jam sibuk, ketika anak sekolah diantar orang tuanya dan pegawai berangkat kerja, pemandangan ini menjadi potret paling jujur tentang bagaimana sebuah kota memperlakukan ruang publiknya.
Kemacetan kecil terjadi hampir setiap hari. Ketika truk sampah datang untuk mengangkut gunungan itu, kendaraan terpaksa melambat. Tidak jarang antrean mengular. Klakson bersahutan. Wajah-wajah tegang tampak dari balik kaca helm dan jendela mobil.
Semua berlangsung dalam pola yang nyaris rutin, seolah-olah tumpukan sampah di pembatas jalan adalah bagian alami dari sistem kota.
Di tengah gaung Hari Peduli Sampah Nasional dan wacana tentang gaya hidup ramah lingkungan, pemandangan ini terasa seperti ironi. Kita berbicara tentang eco-lifestyle, tentang kesadaran kolektif menjaga bumi, namun di satu titik strategis kota, sampah justru dibiarkan menumpuk di ruang yang seharusnya menjadi pemisah aman antarjalur kendaraan.
Masalah ini bukan sekadar soal estetika atau bau tidak sedap. Ia adalah refleksi dari tata kelola yang belum sepenuhnya berpihak pada keteraturan dan kesehatan ruang publik.
Ketika Pembatas Jalan Berubah Menjadi Tempat Pembuangan
Pembatas jalan sejatinya dirancang sebagai elemen keselamatan. Ia memisahkan arus kendaraan, mencegah tabrakan, dan menciptakan keteraturan lalu lintas.
Namun di Pasar Pagi Subulussalam, fungsi itu perlahan bergeser. Ketiadaan kontainer sampah terpusat membuat pembatas jalan menjadi titik kumpul tak resmi bagi limbah rumah tangga dan sampah pasar.
Awalnya mungkin hanya beberapa kantong plastik yang diletakkan di sana karena dianggap mudah dijangkau dan tidak langsung mengganggu trotoar. Namun tanpa sistem yang jelas, titik itu berkembang menjadi tempat penumpukan harian.




