Tet: Mengingatkan Generasi Muda Akan Nilai Keluarga dan Tanggung Jawab
Artikel berikut menyajikan perspektif guru Tran Trung Hieu, seorang guru sejarah di Sekolah Menengah Atas Phan Boi Chau untuk Siswa Berbakat ( provinsi Nghe An), tentang peran Tet dalam menumbuhkan rasa warisan dan tanggung jawab pada generasi muda:
Ketika bunga persik dan bunga aprikot bermekaran di seluruh negeri, itu pertanda Tet (Tahun Baru Vietnam) 2026 telah tiba.
Bagi banyak anak muda saat ini, Tet (Tahun Baru Imlek) dapat dipahami sebagai liburan panjang, waktu untuk bersenang-senang, bepergian, bertemu teman, dan menikmati momen relaksasi setelah setahun bekerja keras dan belajar. Itu tidak salah. Tetapi jika Tet hanya terbatas pada kesenangan dan hiburan, maka mungkin banyak nilai-nilai mendalam dan sakral yang telah ditanamkan dan dilestarikan oleh leluhur kita selama ribuan tahun sejarah telah sangat berkurang.
Yang terpenting, Tết adalah pengingat bagi semua orang, terutama generasi muda, bahwa betapapun banyaknya perubahan dalam masyarakat atau betapapun sibuknya kehidupan, masih ada nilai-nilai abadi yang tidak boleh dilupakan, seperti tanggung jawab kepada keluarga, kepada akar budaya, dan kepada leluhur; rasa syukur, persatuan, dan kesadaran bahwa leluhur adalah akar, keluarga adalah fondasi, dan tanah air adalah batu loncatan bagi setiap orang untuk melangkah ke dunia yang lebih luas.
Dalam masyarakat modern, tren anak muda yang bersenang-senang dan menikmati waktu luang selama Tet (Tahun Baru Imlek) dapat dimengerti. Perjalanan jauh, pertemuan yang meriah, dan tempat hiburan yang semarak telah menjadi bagian yang familiar dari Tet saat ini. Namun, di tengah arus ini, Tet juga diam-diam menimbulkan pertanyaan: Saat kita merayakan tahun baru, apakah kita telah memenuhi tanggung jawab kita?
Tugas itu bukanlah sesuatu yang muluk-muluk, tetapi dimulai dengan hal-hal yang sangat dekat: benar-benar pulang ke rumah, duduk di meja makan keluarga, menyapa kakek-nenek dan orang tua, membantu membersihkan altar leluhur, dan menyalakan dupa pada saat Malam Tahun Baru. Itu adalah tanggung jawab moral yang dipikul setiap anak dan cucu, tanpa memandang generasi.
Nenek moyang kita mengajarkan kita: "Saat minum air, ingatlah sumbernya," dan "Saat makan buah, ingatlah orang yang menanam pohon itu." Tet (Tahun Baru Imlek) adalah waktu ketika ajaran-ajaran ini dihidupkan kembali dengan sangat kuat. Generasi muda saat ini mungkin bangga dengan pengetahuan mereka, kemampuan mereka untuk mengintegrasikan, dinamisme dan kreativitas mereka, tetapi jika mereka kurang rasa syukur dan tanggung jawab terhadap akar mereka, kedewasaan itu akan tidak lengkap.
Merayakan Tahun Baru Imlek adalah hak yang sah, tetapi tidak melupakan tanggung jawab adalah ukuran karakter. Tet mengingatkan kaum muda bahwa: Sebelum menjelajah dunia yang lebih luas, belajarlah untuk kembali ke rumah; sebelum bermimpi tentang cakrawala yang jauh, ketahuilah bagaimana bersujud di hadapan leluhur dan mereka yang melahirkan dan membesarkanmu.
Tet adalah waktu untuk berkumpul kembali dengan keluarga dan mengungkapkan rasa syukur.
Bukan kebetulan jika Tết dianggap sebagai reuni keluarga terbesar tahun ini. Setelah 12 bulan bekerja keras dan bepergian, setiap keluarga memiliki kesempatan untuk berkumpul, bertemu satu sama lain dalam suasana hangat dan sakral di hari pertama tahun baru. Pada saat itu, semua jarak seolah lenyap: jarak geografis, jarak antar generasi, bahkan dendam dan kesalahpahaman tahun lalu.
Pada akhirnya, reuni keluarga bukan hanya untuk bergembira, tetapi juga untuk bersyukur. Bersyukur kepada kakek-nenek karena telah melestarikan tradisi keluarga, mewariskan adat istiadat, dan menanamkan nilai-nilai kemanusiaan. Bersyukur kepada orang tua atas pengorbanan diam-diam mereka sepanjang hidup untuk anak-anak mereka. Lebih dalam lagi, ini adalah rasa syukur kepada leluhur kita – mereka yang merintis, membangun, dan melestarikan tanah sehingga keturunan mereka saat ini dapat menikmati kehidupan yang damai dan sejahtera.
Selama Tết (Tahun Baru Vietnam), hidangan persembahan leluhur bukan hanya ritual, tetapi juga pelajaran diam-diam bagi generasi muda. Setiap batang dupa adalah benang yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan. Setiap doa adalah pengingat bahwa manusia tidak pernah hidup terisolasi, tetapi selalu merupakan kelanjutan dari banyak generasi.
Ketika kaum muda memahami makna kebersamaan dan rasa syukur, Tết tidak lagi menjadi waktu berlalu dengan tergesa-gesa, tetapi menjadi jangkar spiritual, tempat untuk memupuk rasa syukur, kerendahan hati, dan tanggung jawab dalam hidup. Dalam perjalanan setiap orang menuju kedewasaan, ada nilai-nilai yang tampak begitu familiar sehingga mudah diabaikan. Tetapi justru pada Tết-lah nilai-nilai ini dikembalikan ke tempatnya yang seharusnya.
Keluarga – tempat kita dilahirkan dan dibesarkan – adalah akar kita. Hanya dengan akar yang kuat pohon kehidupan dapat tumbuh subur. Seorang anak muda dapat mencapai banyak hal, tetapi jika akar keluarganya tidak kuat, perjalanan itu cepat atau lambat akan menjadi tidak stabil.
Leluhur adalah fondasi. Tanpa fondasi sejarah, budaya, dan moral yang ditinggalkan oleh leluhur kita, identitas manusia akan memudar di tengah arus integrasi. Tet, dengan adat istiadat, ritual, dan kisah-kisah antar generasi, adalah cara untuk melestarikan dan mewariskan fondasi tersebut.
Dan tanah air – tempat seseorang dilahirkan dan dibesarkan – adalah landasan, motivasi spiritual bagi setiap anak muda untuk meraih dunia. Ke mana pun mereka pergi atau apa pun yang mereka lakukan, tanah air tetap menjadi penopang untuk kembali, tempat yang memelihara aspirasi mereka untuk berkontribusi dan bertanggung jawab secara sipil. Oleh karena itu, Tet bukan hanya awal tahun baru, tetapi juga sebuah penegasan: jika Anda ingin pergi jauh, Anda harus mengingat jalan pulang; jika Anda ingin terbang tinggi, Anda harus memiliki fondasi yang kokoh.
Kedatangan Tet, Tahun Baru Imlek, tidak hanya membawa kegembiraan, harapan, dan awal yang baru, tetapi juga secara diam-diam mengingatkan generasi muda akan nilai-nilai abadi dan sakral yang telah membentuk identitas kemanusiaan kita.




