Tantangan Ekonomi Indonesia di 2026: Pengaruh Global dan Kebijakan Suku Bunga
tirto.id - Ekonom sekaligus Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede, mengungkapkan sejumlah tantangan berat yang bakal dihadapi perekonomian Indonesia sepanjang tahun ini.
Tekanan tersebut terutama bersumber dari dinamika global, mulai dari perdagangan internasional, arah kebijakan moneter dunia, hingga perlambatan ekonomi mitra dagang utama.
Dalam hal perdangangan, tantangan terdekat yang akan dihadapi Indonesia adalah pemberlakuan tarif resiprokal dari Amerika Serikat (AS). Kondisi ini, menurut Josua, akan berdampak pada kinerja ekspor Indonesia ke AS yang pada tahun lalu masih dipengaruhi faktor front-loading, khususnya pada semester pertama.
Sementara sejak semester kedua tahun lalu, ekspor Indonesia ke negeri Paman Sam telah mengalami normalisasi. “Artinya efek dari tarif resiprokal itu sudah mulai taking place gitu ya. Dan ini tentunya full impact-nya akan mulai terindikasi di tahun ini ya, sehingga ini yang harus kita antisipasi,” ujarnya dalam Media Briefing PIER Economic Review 2025, Jumat (20/2/2026).
Selain perdagangan, tantangan besar lainnya datang dari divergensi arah kebijakan suku bunga global. Josua menilai, sejumlah bank sentral utama dunia menunjukkan arah kebijakan yang tidak seragam.
European Central Bank dan Bank Sentral Inggris, misalnya, mulai memberi sinyal menahan laju penurunan suku bunga, sementara Federal Reserve masih membuka ruang pemangkasan, meski terbatas.
Di sisi lain, Bank of Japan justru melanjutkan tren kenaikan suku bunga dalam jangka menengah. Divergensi tersebut, kata Josua, berpotensi memicu volatilitas di pasar keuangan negara berkembang, termasuk Indonesia, baik dalam jangka pendek maupun menengah-panjang.
"Sehingga ini pun juga menunjukkan bahwa divergensi arah kebijakan suku bunga global ini memberikan dampak juga pada jangka pendek dan jangka menengah-panjang," imbuhnya.
Tantangan eksternal juga datang dari perlambatan ekonomi Tiongkok yang dinilai berlangsung konsisten hingga saat ini. Sebagai mitra dagang utama Indonesia, pelemahan ekonomi Tiongkok tidak hanya berdampak pada kinerja perdagangan, tetapi juga berisiko menekan arus investasi.
“Pertumbuhan ekonomi Tiongkok di tahun di tahun lalu masih di kisaran 5 persen, namun di tahun ini diperkirakan akan cukup berat mencapai 5 persen dan bahkan probabilitinya akan tumbuh di bawah 5 persen," tuturnya.
Meski demikian, ia menilai posisi Indonesia tidak sepenuhnya buruk. Pasalnya, dalam konteks global dan kelompok G20, Indonesia masih menunjukkan ketahanan, meski kalah cepat dibandingkan negara seperti India dan Vietnam.
Ia menilai, proyeksi lembaga internasional yang cenderung menaikkan outlook pertumbuhan Indonesia tahun ini juga mengindikasikan masih adanya mesin pertumbuhan domestik yang bisa dioptimalkan.
Ia juga menyinggung dampak asesmen lembaga internasional seperti Moody’s dan MSCI terhadap pasar keuangan domestik. Meski memicu volatilitas jangka pendek pada nilai tukar dan pasar finansial, Josua menilai fundamental ekonomi Indonesia sejatinya masih relatif kuat.
"Kalau recalling dulu, majalah The Economist pernah menempatkan Indonesia menjadi The Fragile Five. Artinya, memang karena kondisi fundamental kita itu, peringkat utang kita waktu itu belum investment grade dan kondisi fundamental kita pun masih cukup mixed, bahkan relatif kurang kuat,” ujarnya.
Namun demikian, ia mengingatkan masih ada pekerjaan rumah besar di sisi domestik, terutama terkait keterbatasan ruang fiskal. Sebab, defisit APBN yang mendekati 3 persen terhadap PDB akibat berbagai stimulus pada tahun lalu memunculkan tantangan baru pada tahun ini, terutama dalam meningkatkan penerimaan pajak dan produktivitas belanja.




