Prabowo Tegaskan Komitmen Menyelamatkan Kekayaan Negara dari Kebocoran Anggaran
JAKARTA - Presiden Prabowo Subianto menegaskan komitmennya untuk mengatasi kebocoran anggaran dan menjaga keuangan negara. Dalam sebuah acara peresmian di Jakarta, Prabowo menyatakan bahwa masih banyak praktik penghamburan anggaran yang perlu ditertibkan demi melindungi aset dan kekayaan negara.
"Masih terlalu banyak kebocoran, masih terlalu banyak penghamburan. Saya ingin tertibkan birokrasi kita. Saya ingin menyelamatkan kekayaan negara," ujar Prabowo dalam pernyataannya.
Prabowo menekankan bahwa program-program pemerintah saat ini merupakan hasil dari penghematan dan efisiensi anggaran, bukan pemborosan seperti yang dituduhkan oleh sejumlah pihak. Ia menyoroti pentingnya penghematan untuk mencegah korupsi dan memerangi budaya penggelembungan anggaran yang masih marak di birokrasi.
"Uang ini adalah hasil penghematan, hasil efisiensi dari anggaran yang saya dan tim saya yakin. Jika tidak kita hemat, uang ini akan dimakan oleh korupsi, akan dihabis-habiskan untuk memperkaya oknum-oknum pribadi," lanjutnya.
Selain itu, Prabowo juga mengkritik budaya pemborosan anggaran yang harus dihentikan, termasuk kegiatan yang dianggap tidak produktif bagi bangsa dan negara. Ia menyebutkan beberapa contoh seperti rapat-rapat di hotel dan seminar yang tidak memberikan manfaat nyata.
"Rakyat ditipu, rakyat dibohongi. Ini yang kita hemat, uang ini yang kita alihkan," tegasnya.
Prabowo menegaskan bahwa realokasi anggaran dilakukan dengan tetap menjaga disiplin fiskal dan tidak melampaui batas defisit yang telah ditetapkan oleh pemerintah. "Defisit kita masih di bawah batas yang kita tetapkan sendiri, yaitu tiga persen dari PDB," ungkapnya.
Lebih lanjut, ia menyampaikan pentingnya pemerintah untuk menetapkan target besar dalam pengelolaan keuangan negara. "Kita harus berani memiliki cita-cita dan target, walaupun sulit dicapai. Kita harus menjadi bangsa yang berani, bukan bangsa yang menyerah," tambahnya.
Prabowo juga mengungkapkan capaian program MBG yang telah menjangkau puluhan juta penerima manfaat. "Hari ini, kita sudah mencapai laporan dari kepala BNG, 60.200.000 penerima manfaat," tutupnya.




