Prabowo Hadapi Tantangan Diplomasi Global dan Realitas Ekonomi Dalam Negeri
Sumber Foto: Kompasiana.com
Nasional

Prabowo Hadapi Tantangan Diplomasi Global dan Realitas Ekonomi Dalam Negeri

Dunia lagi gak karuan: perang dagang AS-China, konflik Timur Tengah yang memanas, plus ekonomi global yang masih goyah pasca-pandemi. Di tengah itu semua, Presiden Prabowo Subianto tampil agresif bawa Indonesia ke depan panggung internasional. Mulai dari World Economic Forum (WEF) di Davos, KTT G20, sampe forum ASEAN langkahnya nunjukin ambisi gede: Indonesia gak mau lagi jadi penonton, tapi pemain utama yang punya suara. Tapi, sementara dia sibuk jabat tangan pemimpin dunia, di rumah rakyat bertanya: "Ini bawa apa buat kita?"

Diplomasi Ekonomi: Dari Komitmen Miliaran Dolar ke Lapangan Kerja Nyata

Salah satu kartu as Prabowo adalah diplomasi investasi. Baru-baru ini, kunjungan ke China dan AS bawa pulang kesepakatan gede: investasi di baterai EV senilai Rp 150 triliun dari perusahaan Cina, proyek infrastruktur kereta cepat Jakarta-Surabaya yang dibiayai Jepang, plus kerjasama pertahanan dengan Prancis untuk kapal selam. Total komitmen investasi capai US$ 50 miliar lebih di sektor energi terbarukan, hilirisasi nikel dan bauksit, infrastruktur digital, sama manufaktur hijau.

Strateginya pragmatis abis: pacu pertumbuhan di atas 5,5 persen tahun ini lewat modal asing dan transfer teknologi. Pemerintah jualan Indonesia sebagai "sweet spot" Indo-Pasifik bonus demografi 270 juta penduduk usia produktif, SDA alam yang gak ada habisnya, lokasi strategis antara dua samudra. Di forum seperti WEF Januari lalu, Prabowo bilang langsung: "Kami stabil politiknya, regulasinya jelas, datanglah investasi!" Hasilnya? FDI (Foreign Direct Investment) naik 15 persen di kuartal pertama 2026 dibanding tahun lalu. Tapi, pertanyaannya: kapan ini nyebar ke daerah pelosok?

Politik Bebas-Aktif: Gaya Tegas ala Prabowo di Tengah Geopolitik Panas

Gak cuma urusan duit, Prabowo juga tegasin politik luar negeri bebas-aktif yang jadi DNA Indonesia sejak Soekarno. Di PBB, dia dorong gencatan senjata Gaza lewat jalur diplomasi, sementara di KTT ASEAN-China, Indonesia mediasi sengketa Laut China Selatan tanpa memihak. Pendekatan ini mirip era Jokowi, tapi lebih frontal Prabowo gak ragu bilang "kami netral, tapi gak diam kalau ada ketidakadilan."

Ini bantu posisi kita di rivalitas superpower: deket sama AS buat teknologi, tapi tetep kerjasama ekonomi dengan China. Contohnya, kesepakatan "Indo-Pacific Economic Framework" dengan AS sambil jaga Belt and Road Initiative. Tantangannya? Jaga independensi supaya gak jadi pion di permainan besar. Prabowo lagi uji coba ini, dan sejauh ini, citra Indonesia naik di mata dunia peringkat soft power kita lompat 10 posisi di Global Soft Power Index 2026.

Meski sukses di luar, medan perang sesungguhnya di dalam negeri. Koalisi gemuk Prabowo dari Golkar, Gerindra, sampe PKB masih rapuh; ada friksi soal bagi-bagi kursi kabinet dan anggaran daerah. Respons ke kritik oposisi soal IKN (Ibu Kota Nusantara) juga lagi diuji biaya triliunan yang katanya "foya-foya" harus dibuktikan dengan kemajuan nyata.

Investasi global harus diterjemahin jadi kenyataan: ciptain 2 juta lapangan kerja baru tahun ini, bantu UMKM naik kelas via rantai pasok hilirisasi, dan ratain pembangunan ke Papua sampe Maluku. Kebijakan hilirisasi nikel udah bawa tambahan nilai ekspor US$ 10 miliar, tapi petani kecil dan buruh tambang protes karena harga listrik naik dan PHK sementara. Rakyat juga sorot harga beras yang fluktuatif, inflasi pangan 4 persen, dan pengangguran muda yang masih 8 persen. Transparansi anggaran APBN 2026 jadi kunci publik pengen audit independen, bukan cuma laporan resmi.