Perubahan Paradigma: Kemandirian dan Kualitas Hidup Lebih Penting dari Usia Panjang
Sumber Foto: Kompas.com
Sosial

Perubahan Paradigma: Kemandirian dan Kualitas Hidup Lebih Penting dari Usia Panjang

Lihat Foto

Para lansia berkumpul di taman kota, menikmati percakapan serta saling berbagi senyum dan tawa.(iStock/tkpond)

KOMPAS.com - Bagi banyak keluarga di Indonesia, pertanyaan tentang kesehatan dan masa depan kini tidak lagi berhenti pada seberapa lama masa hidup. Lebih dari itu, fokus kini beralih pada cara menjalani kehidupan, terutama ketika risiko kesehatan yang selalu datang tanpa rencana.

Sebagai contoh, risiko kesehatan berupa penyakit kritis seperti kanker. Penyakit ini tidak hanya menjadi tantangan medis semata, tetapi juga ujian berat terhadap kemandirian, relasi keluarga, dan ketahanan ekonomi sebuah rumah tangga.

Hasil riset Manulife Asia Care Survey 2025 menunjukkan pergeseran cara pandang tersebut. Masyarakat kini tidak memandang panjang umur sebagai tujuan utama.

Sebanyak 56 persen responden Indonesia yang disurvei menyatakan bahwa kebebasan finansial dan kemampuan untuk tetap aktif secara fisik, mental, dan sosial lebih penting ketimbang sekadar memperpanjang usia.

Hanya 6 persen responden yang menjadikan memaksimalkan usia hidup sebagai harapan utama di masa tua.

Presiden Direktur Manulife Indonesia Lauren Sulistiawati mengatakan, temuan tersebut menegaskan bahwa usia panjang tidak lagi sebagai tujuan akhir. Masa tua kini dipandang sebagai perjalanan yang perlu dipersiapkan secara matang.

Pergeseran tersebut, lanjutnya, merupakan refleksi perubahan mendasar dalam cara masyarakat memandang hidup sehat di usia lanjut.

"Usia panjang bukan hanya soal hidup lebih lama, melainkan tentang bagaimana menjalani hidup yang bermakna dan mandiri," ujar Lauren lewat keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Rabu (5/2/2026).

Seiring dengan hal itu, makna kesehatan pun ikut berkembang. Bagi banyak orang, sehat kini tidak lagi semata diartikan bebas dari penyakit, tetapi mampu tidak bergantung pada orang lain dan tetap melakukan hal-hal yang penting bagi diri sendiri dan keluarga.

Baca juga: Laporan Manulife: Orang Indonesia Paling Optimistis Siapkan Dana untuk Masa Pensiun Panjang

Ada kesenjangan persepsi dan praktik hidup sehat

Survei menunjukkan bahwa 84 persen responden Indonesia sepakat bahwa kemandirian merupakan inti dari kondisi sehat. Namun, di balik kesadaran tersebut, terdapat kesenjangan antara persepsi dan praktik.

Hampir 64 persen responden yang berusia 25 hingga 44 tahun mengaku mulai mengalami masalah kesehatan fisik atau mental yang mempengaruhi gaya hidup mereka.

Meski demikian, 82 persen responden merasa upaya menjaga kesehatan yang dilakukan sudah cukup. Padahal, langkah pencegahan dan pemantauan kesehatan belum dilakukan secara merata dan menyeluruh.

Kesenjangan tersebut dapat berdampak serius manakala penyakit kritis muncul, seperti kanker. Penyakit ini tetap menjadi salah satu tantangan kesehatan terbesar, baik secara global maupun di Indonesia.

Tidak sedikit kasus kanker terdeteksi ketika penyakit sudah berada pada stadium lanjut. Akibatnya, pilihan terapi menjadi lebih terbatas dan biaya perawatan meningkat drastis.

Dampaknya tidak berhenti pada pasien semata. Diagnosis kanker hampir selalu membawa konsekuensi emosional, sosial, dan finansial bagi seluruh keluarga.

Perawatan jangka panjang, intensitas terapi, serta kebutuhan pendampingan sering kali memaksa keluarga mengubah peran dan prioritas hidup secara drastis.

Dalam kondisi seperti itu, kualitas hidup yang layak menjadi sama pentingnya dengan akses terhadap pengobatan medis.

“Di sinilah makna usia panjang yang diungkap dalam Asia Care Survey menemukan relevansinya,” jelas Lauren.

Ia menambahkan, dalam menghadapi penyakit kritis, menjadi sehat tidak sekadar bertahan hidup, tetapi mampu untuk tetap mandiri, menjaga keharmonisan keluarga, dan menjalani hidup sesuai nilai yang diyakini.

Baca juga: Dukung Kualitas Hidup yang Lebih Baik, Manulife Hadir sebagai Tenaga Pemasar Keluarga Indonesia

Kesiapan sebagai bentuk kepedulian, bukan ketakutan

Ketika menghadapi risiko penyakit kritis seperti kanker, perlindungan yang memadai membantu keluarga mengambil keputusan dengan kepala dingin. Keluarga juga dapat tetap mandiri dan menjaga harga diri meski sedang dalam tekanan berat.

Oleh karena itu, lanjut Lauren, asuransi kesehatan dan perencanaan keuangan menjadi penting. Keduanya tidak sekadar menjadi langkah antisipasi keadaan yang sulit, tetapi kesiapan nyata menghadapi risiko.

“Tren portofolio perlindungan menunjukkan bahwa asuransi penyakit kritis semakin relevan. Pertumbuhan premi yang konsisten mencerminkan perubahan cara pandang nasabah yang kini melihat penyakit kritis sebagai risiko finansial jangka panjang, bukan semata risiko medis,” papar Lauren.

Dalam praktiknya, kebutuhan masyarakat terhadap perlindungan kesehatan semakin beragam. Banyak keluarga membutuhkan perlindungan penyakit kritis yang langsung memberikan dana tunai saat diagnosis ditetapkan.

Oleh karena itu, tutur Lauren, Manulife menghadirkan Manulife Critical Care Protection (MCCP). MCCP mencakup perlindungan kondisi kritis sejak tahap awal hingga tahap akhir serta memberikan manfaat tambahan, seperti perlindungan ICU dan pembaruan uang pertanggungan khusus untuk penyakit kanker.

Manulife percaya bahwa asuransi penyakit kritis berperan melengkapi asuransi jiwa dan kesehatan dengan memberikan manfaat tunai yang fleksibel. Dana tersebut dapat digunakan untuk pemulihan, kebutuhan keluarga, ataupun menjaga keberlangsungan penghasilan.

Bagi keluarga yang membutuhkan solusi melalui mitra bank, tersedia pula Proteksi Prima Kritis Andalan dalam kerja sama Manulife dan Bank Danamon.

Produk tersebut menyediakan perlindungan atas empat penyakit kritis utama, yakni kanker, jantung, stroke, dan gagal ginjal dengan proses underwriting yang lebih sederhana.

Pada saat bersamaan, Proteksi Prima Kritis Andalan juga memberikan perlindungan jangka panjang bagi anggota keluarga lain untuk menjaga ketahanan rencana finansial mereka secara menyeluruh.

“Pendekatan yang fleksibel ini menunjukkan bahwa Manulife menyesuaikan ragam solusi kesehatan sesuai kebutuhan setiap keluarga. Manulife juga menyediakan akses ke layanan medis tambahan, seperti Medix untuk pendampingan kesehatan yang lebih holistik bagi nasabah,” terang Lauren.

Dalam memberikan perlindungan tersebut, Manulife Indonesia telah membayarkan klaim sebesar Rp 9,448 triliun (unaudited) selama 2025 sebagai bentuk dukungan bagi ribuan keluarga pada saat perlindungan paling dibutuhkan.

Secara spesifik, nilai klaim asuransi penyakit kritis tercatat mencapai Rp 23,5 miliar pada periode yang sama. Jenis penyakit kritis yang paling banyak diklaim masih didominasi oleh penyakit jantung, kanker, stroke, dan gagal ginjal.

Keempat penyakit tersebut merupakan penyakit katastropik dengan dampak jangka panjang, baik terhadap kesehatan maupun stabilitas keuangan keluarga.

“Dalam konteks ini, klaim tidak dipandang sebagai beban, tetapi fungsi utama perlindungan dan wujud nyata komitmen untuk mendampingi nasabah pada fase kehidupan yang paling menantang,” terang Lauren.

Baca juga: Manulife Indonesia dan Bank DBS Indonesia Hadirkan Manulife Ultima+, Solusi Perencanaan Warisan Multigenerasi

Menjalani hidup yang berkualitas di tengah ketidakpastian

Relevansi perlindungan penyakit kritis kini juga semakin menguat di tengah peningkatan biaya pengobatan dan kemunculan risiko penyakit serius di usia produktif.

Kelompok usia produktif, khususnya pencari nafkah utama keluarga, menjadi segmen yang paling membutuhkan perlindungan ini.

Dengan pergeseran perspektif masyarakat yang memprioritaskan kualitas hidup, kesehatan, dan kemandirian finansial sebagai fokus utama ketimbang usia panjang, perlindungan penyakit kritis pun menjadi bagian penting dari perencanaan hidup dan keuangan secara menyeluruh.

Berdasarkan hasil Asia Care Survey 2025, sebagian besar responden yang berusia 25 hingga 44 tahun telah mengalami tantangan kesehatan fisik maupun mental. Oleh karena itu, perlindungan penyakit kritis akan lebih efektif dan terjangkau jika dimulai sejak dini.

Pada akhirnya, kanker dan penyakit kritis mengingatkan bahwa risiko adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan. Namun, cara merespons risiko tersebut tetap berada dalam ranah pilihan.

Deteksi dini dan kesiapan finansial menjadi dua hal yang saling melengkapi agar akses terhadap perawatan berkualitas terbuka. Keduanya juga membantu keluarga menjaga keseimbangan hidup di tengah tantangan yang dihadapi.

Peringatan Hari Kanker Sedunia setiap Februari menjadi momen reflektif bahwa perlindungan adalah tentang kepedulian untuk menjaga kualitas hidup, kemandirian finansial, serta harga diri dan keluarga, bahkan di tengah ketidakpastian bukan semata tentang bertahan hidup lebih lama.

Baca tentang

Perlindungan Terbaik untuk Masa Depan

asuransi

asuransi terbaik

manulife indonesia

asuransi penyakit kritis

perlindungan terbaik

Lihat Money Selengkapnya

Pilihan Untukmu