Perubahan Mindset Masyarakat Sebabkan Penurunan Angka Kelahiran di Indonesia
Sumber Foto: Kompas.com
Lifestyle

Perubahan Mindset Masyarakat Sebabkan Penurunan Angka Kelahiran di Indonesia

KOMPAS.com - Penurunan angka kelahiran atau Total Fertility Rate (TFR) di Indonesia tidak hanya dipengaruhi faktor ekonomi.

Psikolog menilai ada perubahan besar dalam cara pandang dan kondisi mental masyarakat yang ikut mendorong tren tersebut. Pergeseran ini membuat keputusan memiliki anak kini semakin dipikirkan secara matang dan personal.

Psikolog Ibunda.id, Danti Wulan Manunggal, S.Psi., mengatakan fenomena tersebut mencerminkan perubahan psikologis kolektif masyarakat.

Hal itu ia sampaikan saat dihubungi Kompas.com pada Senin (2/3/2026). Menurut dia, angka kelahiran yang menurun tidak bisa dilepaskan dari dinamika mental dan sosial yang sedang berlangsung.

Alasan psikologis di balik turunnya angka kelahiran

Berikut adalah beberapa alasan yang memicu penurunan angka kelahiran di Indonesia.

1. Pergeseran prioritas hidup

Danti menjelaskan bahwa orientasi hidup masyarakat telah berubah. Pada masa lalu, memiliki anak sering dianggap sebagai pencapaian utama atau kewajiban sosial.

Saat ini, banyak orang lebih fokus pada pengembangan diri. Karier, pendidikan, dan hobi menjadi prioritas yang ingin dicapai lebih dulu.

“Ada kebutuhan yang lebih besar untuk mengejar karier, pendidikan, dan hobi. Anak tidak lagi dilihat sebagai satu-satunya cara untuk merasa lengkap,” ujar Danti.

Kesadaran untuk menentukan kebahagiaan sendiri semakin kuat. Jalur hidup tidak lagi harus mengikuti pola domestik yang sama seperti generasi sebelumnya.

2. Standar pengasuhan semakin tinggi

FREEPIK Ilustrasi bayi. Psikolog menyebut penurunan angka kelahiran di Indonesia dipengaruhi perubahan cara pandang, tekanan mental, hingga kecemasan terhadap masa depan.

Perubahan juga terlihat pada cara memandang pengasuhan anak. Jika dulu kebutuhan dasar dianggap cukup, kini standar orangtua dinilai semakin tinggi.

Danti menyebut muncul kecenderungan intensive parenting. Calon orangtua merasa harus menyediakan gizi terbaik, pendidikan terbaik, hingga perhatian pada kesehatan mental anak.

“Jika mereka merasa tidak mampu memberikan standar ideal tersebut, mereka memilih untuk menunda atau tidak memiliki anak sama sekali karena takut gagal menjadi orangtua yang baik,” jelasnya.

Rasa cemas dan takut gagal membuat sebagian orang memilih menunggu sampai benar-benar siap.