Permata Bank Perkirakan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 5,2% di 2026
JAKARTA, KOMPAS.com - Permata Bank melalui Permata Institute for Economic Research (PIER) memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia di kisaran 5,1-5,2 persen secara tahunan (year on year / yoy) pada 2026.
Chief Economist Permata Bank Josua Pardede mengatakan, pertumbuhan ekonomi tahun ini akan lebih tinggi dari realisasi tahun sebelumnya sebesar 5,11 persen (yoy).
Sebab, kondisi perekonomian mulai membaik di pengujung tahun 2025 dengan pertumbuhan ekonomi pada Kuartal IV 2025 mencapai 5,39 persen (yoy) dan menjadi laju tertinggi sejak Kuartal III 2022.
Namun perekonomian tahun ini masih dibayangi risiko dari global serta optimalisasi ruang fiskal untuk menggerakkan pertumbuhan yang berkelanjutan.
"Sehingga kami melihatnya sedikit lebih konservatif ya di kisaran 5,1-5,2 persen di tahun ini," ujarnya dalam PIER Economic Outlook 2026, Jumat (20/2/2026).
Josua menambahkan, pihaknya melihat ada kemungkinan ekonomi tumbuh menuju 5,2-2,3 persen jika tekanan eksternal mereda dan reformasi struktural semakin memperkuat keyakinan pelaku usaha serta konsumen.
Dalam proyeksi tersebut, konsumsi rumah tangga, belanja pemerintah, dan investasi diperkirakan tetap menjadi penopang utama.
Sementara volatilitas pasar keuangan global serta dinamika perdagangan dunia menjadi faktor yang perlu dicermati.
"Prospek pertumbuhan tetap baik, namun dinamika perdagangan global, konflik geopolitik, dan perlambatan ekonomi China perlu terus dicermati. Kebijakan domestik harus dikelola secara hati-hati agar dukungan terhadap pertumbuhan tetap sejalan dengan stabilitas makroekonomi, termasuk menjaga stabilitas nilai tukar dan biaya pendanaan di pasar keuangan," ungkapnya.
Selain itu, PIER juga memperkirakan nilai tukar rupiah akan bergerak relatif stabil pada akhir tahun ini di kisaran Rp 16.700-16.800 per dollar AS.
Dari sisi fiskal, PIER memproyeksikan defisit anggaran 2026 tetap terkendali dan relatif menyerupai realisasi tahun sebelumnya, yakni sekitar 2,93 persen terhadap PDB.
Namun, defisit tersebut akan berimplikasi pada potensi tekanan terhadap imbal hasil surat utang pemerintah dalam jangka pendek.
"Namun dengan adanya potensi penurunan suku bunga BI dan juga perbaikan dari fondasi fundamental kita, harapannya imbal hasil dari surat utang pemerintah Indonesia pun juga akan mulai mengarah ke kisaran di bawah 6,2 persen," kata Josua.
Dari sektor perbankan, PIER memperkirakan pertumbuhan kredit pada 2026 akan sedikit membaik dibanding tahun lalu, yakni sebesar 10,11 persen.
Peningkatan ini diharapkan ditopang berlanjutnya produktivitas ekonomi serta transmisi dari pertumbuhan kredit investasi yang kuat pada 2025 menjadi permintaan kredit modal kerja tahun ini.
Sementara itu, pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) diproyeksikan tetap berada di kisaran 10 persen, dengan rasio loan to deposit ratio (LDR) terjaga sekitar 85 persen, mencerminkan likuiditas yang relatif memadai.
Di sektor riil, PIER juga memproyeksikan perbaikan terbatas pada industri otomotif.
Penjualan kendaraan roda empat diperkirakan naik sekitar 2 persen menjadi 821.000 unit sepanjang 2026.
Adapun penjualan roda dua diproyeksikan relatif stagnan dengan kenaikan tipis menjadi sekitar 6,4 juta unit.




