Pasutri Petani Tersambar Petir di Sumenep, Suami Meninggal Dunia
Sumber Foto: Kompas.com
Internasional

Pasutri Petani Tersambar Petir di Sumenep, Suami Meninggal Dunia

SUMENEP, KOMPAS.com - Sepasang suami istri petani di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, tersambar petir saat beristirahat di sebuah warung sawah.

Akibat kejadian itu, sang suami meninggal dunia, sementara istrinya selamat namun mengalami syok dan harus dirawat di puskesmas.

Korban meninggal diketahui bernama Rahmat Riyanto (50), petani asal Dusun Ares Tengah, Desa Totosan.

Sementara itu, istrinya, Mahwiya (45), yang berada di lokasi kejadian bersama korban, turut tersambar petir namun masih hidup.

Peristiwa itu terjadi pada Sabtu (7/2/2026) sekitar pukul 07.00 WIB di sebuah warung atau gardu di area persawahan Dusun Ares Tengah, Desa Totosan, Kecamatan Batang-Batang.

Perempuan Hamil Muda Diduga Dibunuh Calon Suami, Mayatnya Ditemukan di Kebun Singkong

Artikel Kompas.id

Berdasarkan keterangan saksi, Toni (48), peristiwa bermula saat ia hendak menuju sawah miliknya. Ia mendengar teriakan dari arah warung sawah dan langsung mendatangi lokasi.

“Saat dicek, suaminya sudah meninggal dunia, sedangkan istrinya masih hidup,” kata Toni di Sumenep.

Di lokasi kejadian, saksi melihat stop kontak di warung sawah dalam kondisi rusak dan terbakar.

Hal itu menguatkan dugaan bahwa kedua korban tersambar petir saat sedang beristirahat di dalam warung.

"Sepertinya tersambar petir, ada stop kontak yang terbakar," tambahnya.

Mengetahui peristiwa itu, Toni kemudian memanggil dua warga lainnya, Isna (45) dan Asnabi (57), untuk meminta bantuan.

Tidak lama kemudian, warga bersama-sama mengevakuasi kedua korban ke rumahnya yang berjarak sekitar 300 meter dari lokasi kejadian.

Selanjutnya, Mahwiya dibawa ke Puskesmas Batang-Batang untuk mendapatkan perawatan medis akibat syok yang dialaminya.

Sementara suaminya, Rahmat Riyanto, dinyatakan meninggal dunia di lokasi kejadian.

Petugas dari Polsek Batang-Batang telah mendatangi tempat kejadian perkara (TKP), untuk melakukan pengecekan dan meminta keterangan para saksi.

Dari hasil pemeriksaan, tidak ditemukan luka fisik pada tubuh korban dan pihak keluarga menolak dilakukan autopsi dan menerima kejadian itu sebagai musibah.

"Jenazahnya (korban) dimakamkan di Desa Totosan, di desanya," ungkapnya.