Pasangan Muda Pertimbangkan Kesiapan Sebelum Memiliki Anak
Sumber Foto: Kompas.com
Lifestyle

Pasangan Muda Pertimbangkan Kesiapan Sebelum Memiliki Anak

Arahan News - KOMPAS.com - Ungkapan "banyak anak banyak rezeki" tampaknya mulai kehilangan “taringnya” di era modern.

Jika dahulu anak kerap dipandang sebagai aset keluarga yang kelak dapat membantu kondisi ekonomi orangtua, kini pandangan tersebut telah bergeser menjadi tanggung jawab moral dan finansial yang sangat besar.

Keputusan untuk memiliki anak kini tidak lagi diambil secara impulsif, melainkan melalui kalkulasi matang mengenai kualitas hidup yang mampu diberikan orangtua. Pendiri layanan kesehatan mental Cup of Stories, Fitri Jayanthi, M.Psi., Psikolog, mengungkapkan bahwa salah satu faktor utama yang memicu pergeseran ini adalah melonjaknya biaya hidup.

“Hal utama yang membuat adanya pergeseran ini adalah masalah biaya hidup yang semakin tinggi. Sehingga, memiliki anak cenderung meningkatkan pengeluaran,” terang dia saat dihubungi pada Senin (2/3/2026).

Memiliki anak di masa sekarang bukan lagi sekadar menambah anggota keluarga, melainkan menambah pos pengeluaran jangka panjang yang cukup besar.

Fokus pada kualitas pengasuhan

Selain itu, banyaknya informasi mengenai pengasuhan membuat orangtua masa kini lebih mementingkan pada kualitas daripada kuantitas.

Memiliki anak kini dipandang sebagai sebuah komitmen yang harus dipertanggungjawabkan secara matang.

"Orang terpacu untuk fokus dalam kualitas mengasuh anak karena memiliki anak adalah suatu komitmen yang harus dijaga," jelas Fitri.

Memutus rantai pola asuh masa lalu

Psikolog klinis dewasa, Adelia Octavia Siswoyo, menuturkan, ada dorongan emosional yang kuat dari generasi saat ini untuk tidak mengulangi kesalahan orangtua mereka di masa lalu.

Banyak individu yang merasa terbebani ketika dulu dianggap sebagai "aset" untuk memperbaiki kondisi keluarga.

“Di era sebelumnya, anak dipandang sebagai rezeki yang bisa membantu orangtua, atau membantu meningkatkan kondisi keluarga menjadi lebih baik,” ungkap dia, Senin.

Adelia melanjutkan, generasi saat ini adalah anak-anak dari masa lalu yang pernah merasakan betapa sulitnya menjadi "aset" orangtua.

Pengalaman batin tersebut memicu kesadaran kolektif untuk berhenti memandang kehadiran anak sebagai investasi ekonomi semata.

Oleh karena itu, mereka memiliki keinginan yang kuat untuk memutus pola pikir tersebut demi memberikan kehidupan yang lebih baik bagi anak-anak mereka kelak.

Ingin jadi orangtua yang baik

Kesadaran untuk menjadi orangtua yang lebih baik dari generasi sebelumnya membuat banyak pasangan memilih untuk memantapkan diri terlebih dahulu sebelum memiliki keturunan.

Mereka memandang bahwa tanggung jawab moral untuk memberikan mental yang sehat bagi anak sama pentingnya dengan kesiapan finansial.

Orangtua masa kini tidak lagi mengharapkan balas budi dari anak, melainkan fokus pada apa yang bisa mereka berikan sebagai pelindung dan pengasuh.

“Karena anak-anak di masa lalu tersebut saat ini menjadi orangtua, mereka cenderung ingin memutus pola berpikir yang tidak ideal tersebut,” ujar Adelia.