Outlook Negatif Moody's Tekan IHSG dan Kesehatan Fiskal Indonesia
Sumber Foto: Merdeka.com
Nasional

Outlook Negatif Moody's Tekan IHSG dan Kesehatan Fiskal Indonesia

Outlook negatif berarti Moody’s melihat risiko penurunan peringkat meningkat dalam horizon ke depan jika faktor pemicunya tidak membaik.

14:10:44

Ekonom Universitas Andalas, Syafruddin Karimi menyoroti dampak pernyataan Lembaga pemeringkat internasional Moody’s Ratings yang menurunkan prospek peringkat kredit Indonesia menjadi negatif dari stabil, terhadap pasar saham di Indonesia.

"Menyentuh arus modal dan pasar saham. Outlook negatif memperkuat sikap 'risk-off' investor asing, terutama saat isu transparansi dan likuiditas pasar ikut mencuat. Reuters mencatat arus jual asing dan pelemahan IHSG di awal tahun, yang menunjukkan pasar menghukum lewat harga, bukan lewat debat," kata Syafruddin dalam keterangannya, Jumat (6/2).

Ia menjelaskan bahwa Moody’s menurunkan outlook kredit Indonesia menjadi negatif sambil mempertahankan peringkat Baa2. Outlook negatif berarti Moody’s melihat risiko penurunan peringkat meningkat dalam horizon ke depan jika faktor pemicunya tidak membaik.

Moody’s menekankan isu prediktabilitas kebijakan dan sinyal pelemahan tata kelola sebagai alasan utama. Alhasil pasar langsung menerjemahkan sinyal ini sebagai kenaikan premi risiko yakni rupiah rapuh, obligasi dolar melemah, dan IHSG tetap tertekan setelah gelombang sentimen negatif yang juga dipicu peringatan MSCI terkait transparansi.

Selain dampak terhadap pasar saham, dampak lainnya muncul lewat biaya pendanaan. Ketika outlook memburuk, investor meminta imbal hasil lebih tinggi untuk memegang risiko Indonesia.

Efeknya terasa pada harga obligasi (yield naik) dan biaya penerbitan utang baru, baik untuk pemerintah maupun korporasi. Reuters mencatat obligasi dolar bertenor panjang melemah dan pasar memantau ketat respons otoritas karena kredibilitas kebijakan menentukan apakah tekanan mereda atau berlanjut.

"Jika tekanan bertahan, pemerintah menghadapi ruang fiskal yang menyempit karena porsi pembayaran bunga cenderung naik," jelasnya.

Dampak Terhadap Nilai Tukar Rupiah

Dampak lainnya yakni terhadap nilai tukar. Outlook negatif memperkuat narasi bahwa risiko kebijakan meningkat, sehingga permintaan aset Rupiah melemah.

"Rupiah yang melemah dapat menambah tekanan inflasi melalui harga barang impor dan biaya produksi yang memakai input impor," ujarnya.

Menurunya, literatur independensi bank sentral menekankan bahwa kredibilitas institusi moneter menambatkan ekspektasi inflasi. Ketika publik meragukan independensi atau konsistensi kebijakan, volatilitas cenderung meningkat dan transmisi ke inflasi lebih mudah terjadi.

ADVERTISEMENT

Prospek Pertumbuhan Ekonomi

Sementara itu, dalam keterangan resmi Bank Indonesia disebutkan, Moody's memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap berada pada kisaran 5 persen dalam jangka pendek hingga menengah, dengan ketahanan ekonomi yang terjaga. Moody's menilai defisit fiskal diperkirakan tetap akan berada di bawah 3 persen PDB, sementara kebijakan moneter dipandang akan terus mendukung stabilitas inflasi.

Moody's juga memperkirakan rasio utang Pemerintah terhadap PDB akan tetap akan terjaga rendah di bawah peers. Namun demikian, menurut Moody's, Indonesia masih menghadapi tantangan untuk meningkatkan basis penerimaan, yang dibutuhkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dengan tetap menjaga stabilitas makro dan keuangan.

Dalam hal ini, Moody's mengapresiasi upaya Pemerintah untuk mendorong penerimaan antara lain melalui peningkatan efisiensi administrasi perpajakan dan kepabeanan.

ADVERTISEMENT