Memahami Halal Lifestyle untuk Kehidupan Berkualitas
MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Dalam pengajian Ahad pagi di Masjid KH Sudja, Yogyakarta, (2/11), anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Asrul Jamaluddin, mengajak jamaah untuk memahami konsep halal lifestyle bukan sekadar urusan konsumsi, tetapi juga sebagai cara hidup yang memuliakan kehidupan dan mendidik jiwa.
“Kata ‘halal’ itu istilah Al-Qur’an,” ujar Asrul membuka ceramahnya. “Ia menjelaskan pola hidup orang beriman, terutama dalam soal makan dan mencari makan. Karena sebagian besar hidup manusia itu tentang makan. Tapi dalam Islam, makan tidak sekadar memenuhi kebutuhan fisik, melainkan juga mendidik jiwa.”
Asrul menekankan, makanan halal melatih manusia agar taat kepada aturan Allah. Ia menyindir fenomena mencari makan dengan cara haram yang kini kian marak.
“Kalau tidak mau taat, mencari makan itu mudah — mencuri, merampas, atau korupsi. Konon korupsi satu triliun dendanya cuma satu miliar dan bisa dapat remisi. Untungnya banyak. Tapi itulah tanda kalau hidup sudah tak memperhatikan syariat,” kata Asrul.
Menurut Asrul, istilah lifestyle sudah populer sejak awal abad ke-20 dan kini menjadi bagian keseharian. “ Lifestyle itu gaya hidup — aktivitas, sikap, bahkan hobi seseorang. Termasuk pengajian Ahad pagi di Jogja ini. Ini juga gaya hidup. Ada yang setelah pengajian lanjut gowes, lalu nyoto. Itu juga bagian dari lifestyle orang Jogja,” ujarnya disambut tawa jamaah.
Namun, ia mengingatkan, tidak semua gaya hidup membawa kebaikan. “Bukan semua lifestyle itu membuat hidup berkualitas. Karena itu kita perlu padukan: halal lifestyle — gaya hidup yang menuntun pada keberkahan dunia dan akhirat.”
Asrul kemudian menjelaskan prinsip-prinsip hidup berkualitas dalam Islam. Pertama, agama menghargai kehidupan, sebagaimana ditegaskan dalam Surah Al-Maidah ayat 32 bahwa membunuh satu jiwa tanpa alasan yang benar sama dengan membunuh seluruh manusia.
Kedua, agama memerintahkan manusia menjunjung tinggi kehidupan. Ia mencontohkan kisah Nabi Ya‘qub yang tak pernah berputus asa mencari Nabi Yusuf meski dikabarkan telah wafat. “Dari situ kita belajar, jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah,” ujar Asrul.
Ketiga, agama menempatkan kehidupan sebagai sesuatu yang harus dijaga — bagian dari maqashid al-syari‘ah. “Salah satu tujuan syariat adalah hifzun nafs, menjaga jiwa. Maka apa pun yang menjamin kelangsungan hidup adalah perintah Allah. Kalau gowes membuat sehat, lakukan. Kalau silaturahmi membuat hati gembira, itu juga menjaga kehidupan.”
Dalam bagian berikutnya, Asrul menekankan bahwa manusia diciptakan untuk beribadah. “Allah tidak butuh ibadah kita, justru kita yang butuh rezeki dari-Nya,” ujarnya sambil mengutip Surah Adz-Dzariyat ayat 56.
Ia lalu menjelaskan keterkaitan antara ibadah, rezeki, dan makanan. “Ibadah itu kontrol agar kita tidak sembarangan mencari rezeki. Orang yang tidak kenal ibadah, mencari makan tanpa peduli halal-haram. Makanya muncul istilah baru di negeri ini: haram lifestyle, gaya hidup korupsi.”
Asrul menyebut rezeki dalam Al-Qur’an tidak hanya berarti uang. “Rezeki itu bisa berupa waktu, kesehatan, hujan, bahkan kesempatan untuk memberi nafkah. Kadang orang gajinya kecil tapi anaknya bisa sekolah tinggi, masih bisa sedekah — itulah rezeki,” jelasnya.
Menutup ceramahnya, Asrul mengingatkan kembali prinsip penting dalam halal lifestyle: konsumsi yang halal dan thayyib. “Al-Qur’an menyebut perintah itu empat kali, salah satunya dalam Surah Al-Baqarah ayat 168. Kulu mimma fil ardi halalan thayyiban — makanlah dari apa yang ada di bumi yang halal lagi baik,” ujarnya.
Menurutnya, perintah kulu tidak hanya berarti “makanlah”, tetapi juga “gunakanlah”. “Jadi, jangan ragu memakai yang kita miliki selama halal. Kalau punya mobil, pakailah untuk kebaikan. Tapi kalau mobilnya dari hasil haram, jangan berharap kebaikan datang darinya,” pungkasnya.
Dengan gaya santai namun sarat makna, Asrul Jamaluddin menutup pengajian dengan ajakan agar jamaah menjadikan halal lifestyle sebagai bentuk ibadah keseharian — bukan hanya dalam soal makanan, tetapi dalam seluruh aspek kehidupan.
“Hidup berkualitas itu bukan soal kemewahan,” katanya, “tetapi tentang ketaatan yang menumbuhkan keberkahan.”




