Masyarakat Beralih ke Gaya Hidup Berbasis Energi Listrik untuk Lingkungan yang Lebih Baik
“Nyaman, selain nyaman juga bersih dan desainnya bagus pakai bis listrik TransJakarta,”alasan Bunga (37) salah satu pegawai bank swasta di Kuningan, selalu rutin menggunakan moda transportasi umum bis listrik ini yang berangkat Karet ke kantornya di Kuningan ataupun sebaliknya.
Begitu juga dengan taksi dan ojek online, lebih memilih kendaraan listrik. Baik taksi mobil listtik ataupun bis listrik TransJakarta, kata Bunga mesinnya gak bising dan tidak ada asap asap.“Kalau bukan bis listrik, saya tidak mau naik sekalipun dengan bis listrik harus berdiri,”ungkapnya.
Bunga mengatakan, alasan berlangganan menggunakan bis listrik TransJakarta adalah langkah kecilnya mendukung emisi karbon dengan memulai gaya hidup modern menggunakan energi berbasis listrik yang dinilai bersih dan efisien. Menurutnya, menekan emisi karbon dengan gaya hidup berbasis energi listrik tidak hanya sekedar memakai kendaraan listrik saja tetap juga aktivitas lainnya.
Dirumah, disampaikan ibu tiga anak ini, memasak sudah beralih dari biasanya memakai kompor gas bahan bakar LPG menjadi kompor induksi berbasis energi listrik yang lebih praktis sebab tidak perlu menukar tabung LPG ketika habis. “Pakai kompor induksi lebih aman, tidak menimbulkan api dan asap sehingga risiko menimbulkan kebakaran jauh lebih kecil dam tidak ada potensi ledakan aibat bahan bakar,”ujarnya.
Disampaikannya, kompor induksi yang tanpa api dan asap juga lebih sehat bagi penggunanya sebab tidak menghasilkan emisi, selain itu juga ramah terhadap anak-anak karena lebih aman. “Waktu masak yang lebih cepat akan membuat kompor listrik lebih hemat penggunaan energi daripada gas,”tuturnya.
Dari sisi penggunaan, kompor induksi juga lebih murah dibandingkan dengan kompor LPG. Hal senada juga disampaikan, Lusi (42) pemilik usaha kue basah di Ciputat ini mengatakan, kelebihan yang lain kompor listrik adalah perawatannya yang mudah dan tampilannya yang modern."Kalau sering dipakai buat masak ya cepat. Lebih hemat ke listrik," ungkap dia.
Namun demikian, Lusi mengaku tidak semua alat masak bisa dipakai kompor listrik. Alat masak harus berbahan stainless steel."Kendala ke alat masaknya kalau pakai kompor yang gas semua bisa pakai. Kalau ini alat masak harus khusus, kalau panci buat masak air terus untuk masak yang lain rasanya tidak enak," terang dia.
Ya, kompor induksi pun telah digunakan segala sektor baik rumah tangga hingga komersial, Kafe Kalukulolo, di Toli- Toli Sulawesi Tengah misalnya sudah lama menggunakan kompor induksi. Imran sang pemilik kafe mengatakan, tempat usahanya telah meninggalkan kompor berbahan bakar LPG dan beralih menggunakan kompor induksi untuk mendukung kebutuhan operasionalnya.
Manfaat dan Keunggulan
Imran mengisahkan, awalnya dia beralih menggunakan kompor induksi untuk disesuaikan dengan desain konsep kafe kekinian. Namun setelah berjalannya waktu, Imran pun juga merasakan keunggulan lainnya,“Bentuk kompor induksi itu kekinian, sesuai dengan konsep kafe kami. Ternyata juga lebih bersih dibanding kompor gas,” kata Imran.
Dia mengaku lebih menghemat pengeluaran dalam biaya operasional energi ketika menggunakan kompor induksi. Selain itu waktu memasak juga menjadi lebih cepat karena panas yang dihasilkan pun optimal. Menurut Imran, setelah menggunakan kompor induksi tidak ada lagi kekhawatiran kehabisan bahan bakar ketika sedang memasak, sebab PLN selalu menyediakan energi listrik yang andal secara optimal.
Dia melanjutkan, menggunakan kompor induksi pun jauh lebih aman sebab tidak ada risiko kebocoran gas yang dapat menjadi pemicu kebakaran, sehingga lebih nyaman dalam menjalankan kegiatan usaha.“Kompor induksi juga lebih simpel, karena kami sering ikut event di luar kafe enggak perlu repot lagi mengangkat-angkat tabung gas,” tuturnya.
Ya menghubungkan gaya hidup modern dengan ramah lingkungan menjadi pilihan yang banyak dilakukan gen Z dan milenial. Berdasarkan hasil temuan penelitian dari Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta melalui survei nasional 2024 menyebutkan, sebanyak 78,5% generasi Z lebih melek isu lingkungan dibandingkan generasi lain. Hal ini terjadi karena generasi Z lebih mudah mendapat akses informasi melalui teknologi.
Tengok saja, Ditto Percussion dan Ayudia Bing Slamet pasangan Gen Z ini berbagi pengalaman tentang gaya hidup modern berbasis energi listrik atau electrifying lifestyle, seperti menggunakan kendaraan listrik Jawa Bali dalam event PLN Mobile EVenture. Acara ini menunjukkan bagaimana teknologi ramah lingkungan dapat menjadi bagian dari keseharian masyarakat Indonesia.“Road trip ini benar-benar membuka mata. Kendaraan listrik ternyata nyaman untuk perjalanan jauh, dan yang paling penting, sangat hemat,” kata Ditto.
Dirinya juga memuji kesiapan infrastruktur di sepanjang rute, termasuk keberadaan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) yang mempermudah proses pengisian daya. Ayudia menambahkan, perjalanan ini membuktikan bahwa elektrifikasi kendaraan adalah masa depan yang tidak bisa dihindari. “Melihat antusiasme masyarakat di setiap titik pemberhentian membuat kami yakin, gaya hidup berbasis listrik ini akan semakin diterima,” ujar Ayudia.
Menurutnya, kegiatan ini mengubah cara pandang masyarakat terhadap kendaraan listrik, dari sekadar konsumsi teknologi ke kontribusi nyata terhadap lingkungan. Selain efisiensi dan kenyamanan, kendaraan listrik juga membawa dampak besar dalam upaya mengurangi emisi karbon.
Kaya Ayudia ini adalah peluang bagi Indonesia untuk menunjukkan kepada dunia bahwa kita siap berkontribusi dalam mengatasi krisis iklim.“Gaya hidup berbasis listrik seperti kendaraan listrik ini bukan cuma keren, tapi juga membantu kita lebih bijak dalam menjaga lingkungan,” ungkap Ayudia.
Direktur Utama PT PLN (Persero), Darmawan Prasodjo menegaskan, menjaga ketahanan energi di masa depan maka harus ada transisi dari bahan bakar minyak ke listrik. Oleh karena itu, pengunaan kendaraan listrik bukan sekedar gaya-gayaan tetapi solusi yang dinilai jauh lebih hemat dibandingkan BBM.
Darmawan mengatakan, peralihan energi fosil ke energi listrik akan mengurangi beban APBN yang saat ini mengimpor BBM sekitar US$2,5 miliar atau Rp300 triliun lebih. Hal ini, katanya, akan memberatkan ekonomi negara sehingga perlu perubahan dengan mengganti energi impot ke energi domestik, dalam hal ini listrik.“Ini adalah solusi bagi krisis energi yang sedang dihadapi oleh bangsa kita karena bisa memotong biaya konsumsi BBM hingga seperempatnya,” katanya.
Selain itu, emisi yang dihasilkan oleh mobil listrik nol persen. Emisi keseluruhan akan berkurang 50% jika menghitung emisi dari hilir atau pembangkit listriknya. “Kalau apple-to-apple dikurangi 50% energi impor menjadi domestik sehingga yang mahal menjadi murah, yang kotar menjadi bersih,” paparnya.
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot Tanjung mengapresiasi langkah PLN Group dalam mendukung adopsi gaya hidup ramah lingkungan electrifying lifestyle di masyarakat, mulai dari kendraan listrik, sektor pertanian hingga ranah dapur.
Menurutnya, langkah ini selaras dengan komitmen Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto untuk membangun ketahanan nasional dengan mengoptimalkan sumber daya alam secara berkelanjutan.“Dengan adanya pengembangan ekosistem ketenagalistrikan, termasuk antisipasi kebutuhan industri, pemerintah juga sedang mencoba untuk bagaimana melakukan konsolidasi. Misalnya di ekosistem kendaraan listrik itu justru permintaan ke depan itu akan terjadi peningkatan, kemudian kegiatan rumah tangga juga akan terjadi peningkatan dan juga di industri akan juga terjadi peningkatan,” ujar Yuliot.
Yuliot melanjutkan, langkah yang dilakukan PLN dalam mengkampanyekan electrifying lifestyle searah dengan pengembangan ekosistem kendaraan listrik yang saat ini terus didorong oleh pemerintah.“Jadi, sementara untuk program hilirisasi ini termasuk ekosistem kendaraan listrik. Kami melihat dengan adanya perubahan penggunaan konsumsi dari BBM menjadi kendaraan berbasis listrik, sudah pasti kebutuhan listrik itu akan terjadi peningkatan,” kata Yuliot.




