Kota dan Sampah: Tantangan Eco-Lifestyle di Tengah Ketidakpedulian Sistem
SAMPAH DAN GAGALNYA ECO-LIFESTYLE PERKOTAAN: BUKAN TAK PEDULI, TAPI ABAINYA SISTEM
*Salmun Ndun,S.Pd., Guru UPTD SMP Negeri 1 Lobalain, Kab. Rote Ndao
Di kota-kota kita, sampah bukan lagi sekadar sisa, melainkan pemandangan. Ia hadir di sudut jalan, di selokan, di tempat pembuangan yang kian sesak, bahkan tercium aroma bau yang pelan-pelan dianggap wajar. Kota bergerak cepat, manusia berlomba mengejar waktu, sementara sampah tertinggal sebagai jejak yang tak pernah benar-benar kita renungkan. Ironisnya, di tengah gencarnya kampanye gaya hidup ramah lingkungan, tumpukan sampah justru terus meninggi, seolah mengejek kesadaran yang kita banggakan.
Pertanyaannya kemudian bukan sekadar mengapa sampah masih ada, melainkan mengapa kesadaran itu gagal menemukan bentuknya dalam kehidupan perkotaan. Apakah masyarakat kota sungguh tidak peduli, ataukah kepedulian itu tumbuh dalam ruang yang salah atau ruang yang tidak ditopang oleh sistem yang berpihak? Eco-lifestyle sering disederhanakan menjadi pilihan personal, seolah urusan membawa tas belanja sendiri atau mengurangi plastik sekali pakai cukup untuk menyelamatkan bumi.
Padahal, gaya hidup tidak pernah lahir di ruang hampa. Selalu tumbuh dari nilai-nilai yang dihidupi dan dipelihara oleh sebuah sistem, baik melalui kebijakan, tata kota, maupun cara negara mengatur relasi warganya dengan lingkungan. Ketika sistem abai, kesadaran individu kerap berjalan pincang, bukan karena niat yang lemah, melainkan karena arah yang tak jelas. Upaya memilah sampah menjadi sia-sia ketika fasilitas tidak tersedia; niat mengurangi plastik terasa ironis saat pilihan alternatif nyaris tak terjangkau.
Dalam membaca persoalan sampah perkotaan, sebuah pemikiran sosiolog Zygmunt Bauman menjadi relevan untuk direnungkan. Bauman menyebut masyarakat modern sebagai masyarakat konsumsi, di mana kecepatan, kenyamanan, dan kebaruan diagungkan, sementara tanggung jawab atas sisa-sisa konsumsi kerap disingkirkan dari kesadaran moral. Dalam logika pemahaman ini, membuang menjadi bagian tak terpisahkan dari hidup sehari-hari, tapi juga membuang konsekuensi. Sampah kota, dengan demikian, bukan sekadar persoalan teknis pengelolaan limbah, melainkan cerminan dari budaya hidup yang cair dan serba sementara.
Input gambar: tempo.co
Eco-lifestyle yang lahir di ruang seperti ini mudah tereduksi menjadi simbol, sebab sistem sosialnya lebih mendorong konsumsi daripada keberlanjutan. Ketika kota dibangun untuk memudahkan membeli, tetapi tidak untuk bertanggung jawab atas apa yang dibuang, maka kesadaran ekologis berjalan tertatih. Di titik inilah sampah menyingkap wajah etika perkotaan, yang mana tampak sebuah kehidupan modern yang maju secara ekonomi, tetapi rapuh dalam menjaga relasi dengan lingkungan.
Pola kehidupan sebagian masyarakat perkotaan masih menunjukkan jarak antara kesadaran dan praktik. Kota yang padat dan saling berhimpitan menuntut etika hidup bersama yang lebih peka, namun tidak semua memahami tuntutan itu. Membuang sampah sembarangan saat berkendara di jalanan seolah dianggap remeh, padahal tindakan kecil itu memperlihatkan bagaimana ruang publik diperlakukan tanpa rasa memiliki. Demikian pula praktik beternak hewan di pemukiman padat tanpa menjaga kebersihan kandang, yang menimbulkan aroma tak sedap dan mengganggu kenyamanan bersama, menunjukkan kurangnya kesadaran bahwa hidup di kota berarti berbagi ruang dengan banyak orang.
Persoalan ini bukan semata soal aturan, melainkan tentang kepekaan sosial, kemampuan untuk menyadari bahwa setiap tindakan pribadi memiliki dampak kolektif. Eco-lifestyle dalam konteks perkotaan tidak cukup dipahami sebagai kepedulian terhadap lingkungan semata, tetapi juga sebagai etika hidup berdampingan secara bertanggung jawab. Tanpa kepekaan sosial itu, kota akan terus menjadi ruang yang padat secara fisik, tetapi renggang secara kesadaran.
Benar bahwa kota selalu menuntut warganya untuk sadar, tetapi enggan menyediakan ruang bagi kesadaran itu untuk tumbuh. Tanggung jawab pun terpecah, saling melempar, dan akhirnya mengendap bersama tumpukan sampah yang kian menggunung. Maka, pada akhirnya persoalan sampah berubah menjadi persoalan etika bersama: tentang siapa yang berkuasa menentukan arah, dan siapa yang harus menanggung akibat dari pembiaran yang berlangsung terlalu lama.
Pada hakikatnya eco-lifestyle bukan slogan dan bukan pula gaya hidup elite yang hanya bisa dijangkau segelintir orang, melainkan kesadaran etis terhadap bumi sebagai ruang hidup bersama melalui konsep perubahan cara pandang. Karena itu, eco-lifestyle seharusnya hadir sebagai kesadaran yang membimbing pilihan sehari-hari, bukan sebagai etalase moral yang dipamerkan sesekali. Tanpa kesadaran ini, gaya hidup ramah lingkungan mudah terperangkap dalam kepalsuan seakan terlihat hijau, tetapi rapuh dalam praktik.




