Korea Selatan Perkuat Arsitektur Pertahanan Melawan Ancaman Nuklir Korea Utara
Arahan News - Korea Selatan mempercepat pengembangan arsitektur pertahanan multiranah tangguh dalam menghadapi ancaman rudal dan persenjataan nuklir Korea Utara yang terus berkembang. Pengerahan rudal balistik Hyunmoo-5, kemajuan dalam pengawasan orbit di bawah Proyek 425, dan ambisi yang diperbarui untuk mengerahkan kapal selam bertenaga nuklir yang dipersenjatai secara konvensional menandai perubahan postur Seoul menuju upaya preemptif, ketahanan berkelanjutan, dan kemandirian strategis.
Inti transformasi ini adalah Hyunmoo-5, rudal balistik permukaan-ke-permukaan yang dapat membawa hulu ledak konvensional hingga 7.200 kilogram. Para pejabat mengatakan rudal itu dirancang untuk menyerang bunker komando Korea Utara yang diperkuat dan target militer bawah tanah lainnya.
“Hyunmoo-5 diyakini sebagai rudal balistik terkuat yang dikembangkan sendiri oleh Korea Selatan,” ungkap Dr. Kim Jae Yeop dari Sungkyun Institute for Global Strategy Korea Selatan kepada FORUM. “Bagi Seoul, rudal Hyunmoo-5 merupakan sarana militer paling mematikan untuk membalas kekuatan musuh mana pun, di luar komitmen payung nuklir yang diberikan oleh militer Amerika Serikat.”
Dengan jangkauan hingga 5.000 kilometer, rudal itu menawarkan fleksibilitas operasional dan kapasitas untuk menjangkau target di luar Semenanjung Korea, termasuk sebagai instrumen penangkal terhadap kekuatan regional lainnya, demikian ungkap Kim Jae Yeop. Hal ini merupakan inti doktrin Hukuman dan Pembalasan Masif Korea, yang merupakan bagian dari sistem pertahanan tiga sumbu Seoul.
Korea Selatan juga memanfaatkan ranah ruang angkasa untuk mendapatkan keunggulan penting dalam kesadaran situasional. Pada November 2025, negara itu meluncurkan satelit pengintai militer kelimanya di bawah Proyek 425, yang memungkinkan pemantauan hampir secara terus-menerus terhadap berbagai lokasi strategis Korea Utara.
“Kelima satelit mata-mata ini akan memungkinkan Seoul untuk memantau berbagai target utama yang terletak di Korea Utara, terutama yang terkait dengan ancaman senjata pemusnah massal (weapons of mass destruction – WMD) seperti peluncur rudal balistik bergerak, setiap dua jam,” ungkap Kim Jae Yeop. Aset berbasis ruang angkasa semacam itu akan membantu “dengan cepat melenyapkan dan meredam persenjataan WMD Pyongyang pada tahap awal konflik militer,” meskipun tidak dapat memusnahkan seluruh peluncur rudal yang ada.
Peningkatan yang direncanakan mencakup lusinan satelit pengintai mikro yang dijadwalkan untuk dikerahkan pada tahun 2030-an, yang bertujuan untuk mengurangi latensi identifikasi target menjadi kurang dari satu jam. Peran sistem itu dalam pengumpulan intelijen mencerminkan perubahan yang lebih luas dalam pendekatan Korea Selatan dari pencegatan pasif menjadi penghancuran aktif.
Seiring dengan ancaman yang semakin bergerak dan beroperasi tersembunyi di bawah permukaan laut, Seoul juga tengah memajukan rencana untuk memperoleh kapal selam bertenaga nuklir, langkah yang telah mendapatkan restu dari sekutu lamanya, A.S., pada akhir tahun 2025. Kapal-kapal itu akan menjadi komponen penting dari strategi serangan preemtif dan antikapal selam jangka panjang Seoul.
“Kapal selam bertenaga nuklir memberikan keunggulan unik dalam hal kemampuan dalam mengatasi serangan musuh dan kelincahan dibandingkan kapal selam konvensional yang ada,” ungkap Kim Jae Yeop.
Kerja sama pertahanan di antara Seoul dan Washington telah semakin meningkat. Wakil Menteri Perang A.S. untuk Urusan Kebijakan, Elbridge Colby, baru-baru ini menekankan bahwa postur pertahanan proaktif Korea Selatan selaras dengan strategi keamanan regional baru Departemen Perang A.S.
Kim Jae Yeop menyoroti pentingnya kolaborasi internasional. Contohnya, berbagai perusahaan Eropa seperti Thales Alenia Space memainkan peran penting dalam pengembangan satelit untuk Proyek 425, sementara itu kelima satelit itu diluncurkan melalui roket SpaceX Falcon 9 buatan A.S. Dia mengatakan pengembangan kapal selam juga akan membutuhkan koordinasi teknis dan diplomatik dengan A.S., khususnya dalam memastikan diperolehnya bahan bakar nuklir di dalam kerangka kerja nonproliferasi.
Sementara itu, Korea Selatan berinvestasi dalam peningkatan kemampuan pertahanan rudal dalam negeri. Sistem seperti L-SAM II dan Cheongung III menggabungkan teknologi radar generasi berikutnya, sehingga meningkatkan kemampuan mereka untuk melacak banyak target secara bersamaan, bereaksi lebih cepat, dan memantau area yang lebih luas.
Felix Kim merupakan kontributor FORUM yang memberikan laporan dari Seoul, Korea Selatan.




