Indonesia Masih Peringkat Tiga Kusta Dunia: Tantangan Deteksi Dini dan Stigma
Sumber Foto: Kompas.com
Internasional

Indonesia Masih Peringkat Tiga Kusta Dunia: Tantangan Deteksi Dini dan Stigma

Arahan News - Kompas.com, 26 Februari 2026, 22:30 WIB

Add on Google

Ida Setyaningsih

Penulis

Lihat Foto

Ilustrasi kulit gatal. Dua WNI yang bekerja di sebuah spa di Rumania terdiagnosis kusta, memicu perhatian lintas negara karena menjadi kasus pertama setelah 40 tahun tanpa temuan serupa.(Freepik)

Daftar Isi

Buka

Gejala Awal Sering Diabaikan

Stigma Masih Jadi Hambatan

Ketimpangan Akses dan Kepatuhan Terapi

Perlu Pendekatan Menyeluruh

KOMPAS.com – Kusta atau lepra memang kerap dianggap sebagai penyakit masa lalu. Namun hingga kini, Indonesia masih menempati peringkat ketiga dunia dalam jumlah kasus baru kusta setelah India dan Brasil.

Fakta ini menunjukkan bahwa upaya eliminasi kusta masih menghadapi tantangan besar.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, Indonesia mencatat sekitar 15.000–17.000 kasus baru setiap tahun.

Sekitar 6–8 persen di antaranya terjadi pada anak usia di bawah 15 tahun, yang menandakan penularan masih aktif terjadi di masyarakat.

Dokter spesialis kulit dan kelamin di RSUD Banyumas, dr. Ermadi Satriyo Sudibyo, M.Sc., Sp.DVE, menjelaskan bahwa persoalan kusta bukan semata-mata karena pengobatan yang tidak tersedia.

“Pengobatan kusta sudah ada dan gratis melalui program Multi-Drug Therapy (MDT). Dengan terapi yang teratur, pasien bisa sembuh total. Tantangannya bukan pada obatnya, melainkan pada deteksi dini, stigma, dan kepatuhan berobat,” ujar dr. Ermadi dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Kamis (26/2/2026).

Baca juga: Dua WNI Terdiagnosis Kusta di Rumania, Kasus Pertama Setelah 40 Tahun

Gejala Awal Sering Diabaikan

Kusta disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae yang menyerang kulit dan saraf tepi. Gejala awal biasanya berupa bercak putih atau kemerahan yang mati rasa.

Karena tidak menimbulkan nyeri, kondisi ini kerap dianggap sebagai masalah kulit biasa.

Menurut dr. Ermadi, keterlambatan diagnosis menjadi salah satu penyebab tingginya angka kasus.

“Sebagian besar pasien datang dalam kondisi yang sudah lanjut, bahkan telah mengalami kecacatan. Padahal, bila ditemukan lebih awal, kerusakan saraf bisa dicegah,” katanya.

Ia menambahkan, masa inkubasi kusta yang panjang sekitar dua hingga 10 tahun membuat penyakit ini sulit terdeteksi sejak awal. Kurangnya kewaspadaan di layanan kesehatan primer juga turut berperan.

Baca juga: Indonesia Peringkat Tiga Kasus Kusta Terbanyak di Dunia, Pemerintah Targetkan Eliminasi 2030

iStockphoto/monstArrr_ Ilustrasi penyakit kulit. Romania kembali menemukan kasus kusta setelah lebih dari 40 tahun tanpa laporan penyakit tersebut, menyusul terkonfirmasinya dua perempuan muda yang bekerja di sebuah spa di Kota Cluj-Napoca.

Stigma Masih Jadi Hambatan

Selain persoalan medis, stigma sosial terhadap penderita kusta masih kuat di sejumlah wilayah. Tidak sedikit pasien yang menunda berobat karena takut dikucilkan.

“Saya masih menemukan pasien yang menyembunyikan kondisinya karena khawatir dijauhi keluarga atau kehilangan pekerjaan. Stigma ini membuat penanganan semakin terlambat,” ujar dr. Ermadi.

Padahal, lanjut dia, kusta bukan penyakit yang mudah menular jika sudah diobati. Pasien yang menjalani MDT secara rutin umumnya tidak lagi menjadi sumber penularan.

Ketimpangan Akses dan Kepatuhan Terapi

Sebaran kasus kusta di Indonesia juga tidak merata. Wilayah timur seperti Papua, Maluku, dan beberapa daerah di Sulawesi serta Jawa Timur masih menjadi kantong endemis.

Akses terhadap tenaga kesehatan terlatih, terutama dokter spesialis kulit, masih terbatas di sejumlah daerah terpencil. Di sisi lain, pengobatan kusta membutuhkan waktu enam hingga 12 bulan, tergantung tipe penyakit.

“Tidak sedikit pasien berhenti berobat sebelum tuntas karena merasa sudah membaik. Padahal terapi harus diselesaikan untuk mencegah kekambuhan dan komplikasi,” jelasnya.

Selain itu, reaksi kusta, kondisi peradangan akut yang dapat terjadi sebelum, selama, atau setelah pengobatan memerlukan penanganan cepat agar tidak menimbulkan kerusakan saraf permanen.

Baca juga: Kusta Kembali Muncul di Romania Setelah 40 Tahun, Pemerintah Tegaskan Risiko Rendah

Perlu Pendekatan Menyeluruh

Untuk mencapai target eliminasi kusta pada 2030, dr. Ermadi menilai diperlukan penguatan deteksi dini, edukasi publik, serta pelatihan berkelanjutan bagi tenaga kesehatan.

“Kusta bukan kutukan dan bukan akhir dari segalanya. Dengan deteksi dini dan pengobatan tuntas, penderita dapat sembuh dan kembali beraktivitas normal. Yang perlu kita lawan bukan hanya bakterinya, tetapi juga stigmanya,” tegasnya.

Upaya eliminasi kusta, menurut dia, memerlukan kolaborasi berbagai pihak mulai dari tenaga kesehatan, pemerintah daerah, tokoh masyarakat, hingga keluarga pasien.

Di balik angka ribuan kasus setiap tahun, terdapat individu yang membutuhkan dukungan dan kesempatan untuk hidup sehat tanpa diskriminasi.

Target Indonesia bebas kusta 2030 bukan hal mustahil, selama deteksi dini dan kepatuhan pengobatan menjadi prioritas bersama.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

kusta

gejala kusta

kusta di Indonesia

indonesia peringkat ketiga kusta

mencegah kusta

Lihat Parapuan Selengkapnya

Lihat Health Selengkapnya

Waspadai Kusta, Dinkes Lebak Temukan 52 Kasus Aktif pada 2024

Kusta Masih Mengintai, 17 Kasus Baru Ditemukan di Pamekasan

Perbedaan Kusta Basah dan Kusta Kering: Ini Ciri dan Penanganannya

Indonesia Peringkat Tiga Kasus Kusta Terbanyak di Dunia, Pemerintah Targetkan Eliminasi 2030

Kusta Jadi Masalah Serius di Papua Barat, Kemenkes Diminta Bentuk Tim Investigasi Penanganan Kasus

Kusta Kembali Muncul di Romania Setelah 40 Tahun, Pemerintah Tegaskan Risiko Rendah

Dua WNI Terdiagnosis Kusta di Rumania, Kasus Pertama Setelah 40 Tahun

Pilihan Untukmu

kusta

gejala kusta

kusta di Indonesia

indonesia peringkat ketiga kusta

mencegah kusta

Terkini Lainnya

Tiga Tahun Dipercaya JAKIM, Le Minerale Konsisten Dukung Kebutuhan Mineral Pelari

Health

14/06/2026, 19:13 WIB

Jangan Diremehkan, Obesitas Sentral Memicu Perlemakan Hati

Health

14/06/2026, 14:12 WIB

Mengenal Inovasi 4 Pusat Layanan Unggulan Brawijaya Hospital, dari Jantung hingga IVF

Health

12/06/2026, 21:21 WIB

Bantu Deteksi Kanker Lebih Akurat, AstraZeneca dan RS Kanker Dharmais Berkolaborasi Terapkan NGS

Health

12/06/2026, 19:42 WIB

Reformasi Internsip, Negara Bisa Hemat Triliunan Rupiah

Health

12/06/2026, 13:25 WIB

Jangan Dianggap Sepele, Kenali Gejala Awal Skoliosis Sejak Dini

Health

12/06/2026, 11:18 WIB

Pakar Ingatkan Pentingnya Cegah Paparan BPA di Galon Guna Ulang sejak Perencanaan Kehamilan

Health

12/06/2026, 07:58 WIB

Benjolan di Leher Tak Selalu Aman, Suara Serak Bisa Jadi Tanda Kanker Tiroid

Health

10/06/2026, 15:41 WIB

Akselerasi Dokter Spesialis

Health

10/06/2026, 14:40 WIB

Pakar: Paparan BPA dari Galon Guna Ulang Bisa Picu Pubertas Dini pada Anak

Health

10/06/2026, 12:49 WIB

Jangan Anggap Sepele Cuaca Panas, Heat Stroke Bisa Mengancam Saat Kemarau

Health

10/06/2026, 08:00 WIB

Musim Kemarau 2026 Diprediksi Lebih Panjang, Kemenkes Ingatkan Risiko Heat Stroke hingga ISPA

Health

09/06/2026, 19:21 WIB

Gejala Serangan Jantung pada Perempuan Lebih Samar, Kenali Perbedaannya

Health

09/06/2026, 11:11 WIB

Richard Scolyer Meninggal di Usia 59 Tahun, Tinggalkan Warisan Besar untuk Pasien Kanker Otak

Health

08/06/2026, 14:01 WIB

Psikiater: Yang Perlu Ditakuti Bukan Skizofrenia, tetapi Skizofrenia yang Tidak Diobati

Health

07/06/2026, 19:03 WIB

1

2

3

Next

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat

Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+