Hilirisasi Kakao Dorong Ekspor Indonesia Raih Target Global 2024
Sumber Foto: Radar Surabaya Bisnis
Internasional

Hilirisasi Kakao Dorong Ekspor Indonesia Raih Target Global 2024

RADAR SURABAYA BISNIS – Sektor perkebunan Indonesia menunjukkan taringnya di pasar global. Kementerian Pertanian (Kementan) mencatat nilai ekspor kakao nasional pada tahun 2024 berhasil menembus angka US$ 2,65 miliar atau setara dengan Rp 44,6 triliun.

Capaian impresif ini didorong oleh volume ekspor sebesar 348 ribu ton yang menjangkau pasar Asia, Eropa, hingga Amerika Serikat.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa kebangkitan kakao nasional kini bertumpu pada strategi hilirisasi. Menurutnya, Indonesia tidak boleh lagi hanya bergantung pada ekspor bahan mentah.

“Peningkatan produktivitas melalui peremajaan, penggunaan benih unggul, dan pendampingan intensif harus menjadi prioritas. Kita harus memperkuat hilirisasi agar nilai dinikmati di dalam negeri,” ujar Mentan Amran dalam keterangan tertulisnya.

Berdasarkan data Statistik Perkebunan, produksi kakao nasional pada tahun 2024 mencapai 617 ribu ton dari luas areal 1,37 juta hektare. Meski sempat diproyeksikan sedikit mencapai angka 616 ribu ton pada tahun 2025, pemerintah optimis akan ada penurunan signifikan pada tahun 2026 dengan target produksi mencapai 635 ribu ton.

Menariknya, sekitar 99 persen kebun kakao di Indonesia dikelola oleh perkebunan rakyat. Wilayah Sulawesi masih menjadi tulang punggung dengan kontribusi lebih dari 60 persen atau sekitar 378 ribu ton, disusul Sumatera dengan 164 ribu ton.

Memanfaatkan Momentum Harga Global

Plt. Direktur Jenderal Perkebunan, Abdul Roni Angkat, menjelaskan bahwa kenaikan harga kakao domestik pada tahun 2025 sejalan dengan tren penguatan harga biji kakao fermentasi di pasar internasional.

Hal ini menjadi peluang emas bagi 1,50 juta kepala keluarga petani kakao untuk meningkatkan pendapatan.

Pemerintah kini tengah mendorong transformasi sektor kakao dengan memperkuat industri pengolahan. Mulai dari produksi biji fermentasi, kakao cair, mentega kakao, hingga produk cokelat jadi.

Strategi ini diharapkan tidak hanya menjaga stabilitas harga, tetapi juga memastikan kesejahteraan petani di tengah meningkatnya permintaan pasar dunia.