Harga Emas Dunia Melonjak 1,8% Dipicu Pelemahan Dolar AS
Sumber Foto: KabarBursa.com
Internasional

Harga Emas Dunia Melonjak 1,8% Dipicu Pelemahan Dolar AS

KABARBURSA.COM — Harga emas dunia menanjak tajam pada perdagangan Rabu waktu setempat. Logam mulia itu terdorong oleh pelemahan dolar Amerika Serikat dan turunnya imbal hasil obligasi pemerintah AS, di tengah sikap pelaku pasar yang menahan napas menunggu rilis data ketenagakerjaan Negeri Paman Sam.

Dilansir dari Reuters, Kamis, 19 Februari 2026, di pasar spot, emas tercatat menguat 1,8 persen ke level USD5111,30 per ons atau sekitar Rp86.122.405 per ons. Sementara kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman April naik 2,1 persen ke posisi USD5136,50 per ons atau setara Rp86.54 juta per ons.

Analis Julius Baer Carsten Menke melihat pergerakan harga kali ini tidak lepas dari tekanan terhadap dolar AS dalam beberapa hari terakhir. “Kami melihat dolar AS sedikit melemah dalam beberapa hari perdagangan terakhir, yang membantu emas dan kemungkinan mendorong harga hari ini,” ujarnya.

Pelemahan mata uang AS membuat emas yang diperdagangkan dalam denominasi dolar menjadi lebih murah bagi pembeli luar negeri. Dalam saat bersamaan, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun ke level terendah hampir satu bulan setelah data menunjukkan penjualan ritel inti melemah pada Desember, disertai revisi turun untuk periode sebelumnya.

Situasi tersebut mengubah peta perhitungan investor. Ketika imbal hasil obligasi turun, biaya peluang memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti emas ikut menyusut. Kondisi inilah yang biasanya memberi ruang bagi logam mulia untuk menguat.

Arah kebijakan bank sentral AS kini kembali menjadi poros perhatian. Laporan nonfarm payrolls yang akan dirilis diperkirakan menunjukkan penambahan sekitar 70.000 lapangan kerja pada bulan lalu, naik dari 50.000 pada Desember. Tingkat pengangguran diproyeksikan bertahan di 4,4 persen dengan pertumbuhan upah tahunan yang mulai melandai.

Di sisi lain, Biro Statistik Tenaga Kerja AS diperkirakan merevisi data tahunan yang menunjukkan jumlah lapangan kerja yang tercipta dalam 12 bulan hingga Maret 2025 ternyata 911.000 lebih sedikit dari estimasi sebelumnya.

Analis UBS Giovanni Staunovo menilai ekspektasi perlambatan pasar tenaga kerja memperkuat peluang pelonggaran moneter lanjutan. “Ekspektasi perlambatan penambahan lapangan kerja di AS yang akan dikonfirmasi hari ini mendukung pandangan bahwa The Fed dapat melanjutkan pemangkasan suku bunga tahun ini,” katanya.

Pelaku pasar kini memperkirakan setidaknya ada dua kali pemangkasan suku bunga masing-masing sebesar 25 basis poin pada 2026, merujuk pada perhitungan FedWatch CME Group. Lingkungan suku bunga rendah selama ini dikenal sebagai habitat yang ramah bagi emas karena logam tersebut tidak memberikan imbal hasil.

Kenaikan harga tidak hanya terjadi pada emas. Perak melonjak 6,6 persen ke posisi USD85,98 per ons atau sekitar Rp1,44 juta per ons, setelah sempat merosot lebih dari 3 persen pada sesi sebelumnya. Platinum ikut naik 4,8 persen ke level USD2187,30 per ons atau setara Rp36,86 juta per ons, sedangkan paladium menguat 3,5 persen menjadi USD1767,10 per ons atau sekitar Rp29,78 juta per ons.

Rangkaian data ekonomi dan arah suku bunga kini menjadi jangkar utama pergerakan. Pasar menunggu konfirmasi apakah perlambatan benar terjadi, atau justru hanya jeda sesaat di tengah ekonomi yang masih menyisakan tenaga. Bagi emas, setiap sinyal pelonggaran moneter selalu menjadi bahan bakar, tetapi ketahanannya tetap bergantung pada seberapa dalam perubahan itu benar-benar terjadi.(*)