Dampak Piala Dunia terhadap Lingkungan dan Masa Depan Bersama
Arahan News - Piala Dunia, sebagai ajang olahraga terbesar dunia, menyisakan pertanyaan mengenai warisan lingkungan yang ditinggalkan setelah turnamen berakhir. Meskipun dipromosikan sebagai turnamen 'netral karbon', data menunjukkan bahwa jejak karbon yang dihasilkan jauh lebih besar dari yang diklaim.
Awal Kejadian
Piala Dunia Qatar 2022 dipresentasikan oleh FIFA sebagai turnamen pertama yang sepenuhnya netral karbon. Namun, investigasi oleh Carbon Market Watch dan laporan Scientific American mengungkapkan bahwa emisi CO2 yang dihasilkan mencapai 3,8 juta ton, jumlah yang lebih besar dari total emisi tahunan Islandia. Sebagian besar emisi berasal dari transportasi penonton dan ofisial.
Perkembangan
Klaim netral karbon FIFA memperoleh kritik tajam setelah regulator periklanan Swiss menyatakan bahwa klaim tersebut menyesatkan. Penilaian ini menegaskan bahwa FIFA tidak mampu membuktikan keefektifan skema carbon offset yang digunakan. Piala Dunia 2026, yang berlangsung di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, diprediksi akan menjadi yang terbesar dalam sejarah dengan jejak karbon mencapai hingga 9 juta ton CO2. Sekitar 88 persen emisi diperkirakan berasal dari perjalanan penonton, menunjukkan pergeseran dampak lingkungan dari sektor konstruksi ke mobilitas penonton.
Kondisi Terakhir
FIFA telah berkomitmen untuk memangkas emisi sebesar 50 persen pada 2030, tetapi banyak inisiatif yang dijanjikan belum terealisasi. Konsep pembangunan berkelanjutan dalam laporan Our Common Future menekankan pentingnya keadilan antargenerasi, yang relevan dengan dampak lingkungan Piala Dunia. Untuk mencapai keberlanjutan, FIFA perlu melaporkan data emisi secara transparan dan memberikan insentif untuk transportasi publik. Dengan demikian, Piala Dunia dapat menjadi contoh penyelenggaraan acara besar yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan dan masa depan.




