Augmented Reality: Inovasi Deteksi Dini Gejala Kanker Payudara
JAKARTAMU.COM | Pemanfaatan teknologi augmented reality (AR) mulai masuk ke ruang edukasi kesehatan masyarakat. Melalui kegiatan bertajuk Lensa Sehat, Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah (PDNA) Jakarta Selatan bersama Fakultas Ilmu Keperawatan (FIK) Universitas Indonesia memperkenalkan cara baru mengenali gejala kanker payudara secara visual dan interaktif.
“Selama ini banyak perempuan terlambat memeriksakan diri karena gejala awal kanker payudara sulit dibayangkan hanya lewat teks atau penjelasan lisan,” kata dosen FIK UI, Dr. Tuti Nuraini, S.Kp., M.Biomed, dalam kegiatan yang berlangsung di Musala Nurul Funduq, Cipete, Sabtu, 7 Februari 2026.
Sebanyak 36 peserta yang terdiri atas kader Nasyiatul Aisyiyah, ibu-ibu Aisyiyah, serta masyarakat umum mengikuti kegiatan tersebut dengan memanfaatkan gawai masing-masing. Mereka memindai kartu edukasi yang dirancang khusus sehingga menampilkan visualisasi tiga dimensi gejala kanker payudara, seperti perubahan tekstur kulit dan bentuk benjolan, langsung di layar ponsel.
Pendekatan ini dirancang untuk membantu peserta memahami tanda-tanda awal kanker secara lebih konkret. Menurut Tuti, visualisasi AR memberi gambaran yang lebih presisi sehingga peserta tidak lagi mengandalkan perkiraan atau asumsi ketika mengenali perubahan pada tubuh.
Antusiasme peserta terlihat saat sesi diskusi kelompok terarah yang dikemas dalam bentuk gim edukatif. Lima kelompok kecil dibentuk dan didampingi tim FIK UI untuk membahas informasi yang muncul dari kartu digital tersebut. Suasana diskusi berlangsung aktif, dengan peserta saling bertukar pengalaman dan pertanyaan seputar deteksi dini kanker payudara.
Henny, peserta dari Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah Kebayoran Baru, menilai metode ini membuat materi kesehatan terasa lebih dekat. “Biasanya penjelasan soal kanker terasa rumit dan menakutkan. Dengan gambar tiga dimensi, saya jadi lebih paham seperti apa gejala yang perlu diwaspadai,” ujarnya.
PDNA Jakarta Selatan menyebut kegiatan ini sebagai bagian dari upaya memperluas literasi kesehatan berbasis teknologi, khususnya bagi perempuan. Kolaborasi dengan kalangan akademisi dinilai penting agar materi yang disampaikan tetap akurat sekaligus mudah diterima oleh masyarakat.




