APBN 2026 Sehat, Purbaya Optimis Ekonomi RI Meningkat
Arahan News - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan optimisme terhadap kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 yang dinilai semakin sehat, didukung oleh kinerja fiskal yang membaik, penerimaan negara yang kuat, dan defisit yang terjaga.
Awal Kejadian
Purbaya menyampaikan pandangannya dalam Rapat Kerja bersama Badan Anggaran (Banggar) DPR di Kompleks Parlemen, Senayan. Dalam kesempatan itu, ia memaparkan laporan pelaksanaan APBN Semester I serta proyeksi Semester II Tahun Anggaran 2026, menegaskan bahwa APBN tetap menjadi instrumen utama pemerintah dalam menjaga daya tahan ekonomi dan mendukung delapan agenda prioritas nasional.
Perkembangan
Di tengah ketidakpastian ekonomi global, fundamental ekonomi Indonesia tetap solid, dengan pertumbuhan ekonomi nasional pada triwulan I-2026 tercatat 5,61 persen secara tahunan. Inflasi pada Juni 2026 juga terkendali di level 3,34 persen. Realisasi pendapatan negara hingga Semester I-2026 mencapai Rp1.459,4 triliun atau 46,3 persen dari target APBN, meningkat 21,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Penerimaan perpajakan berkontribusi sebesar Rp1.187,8 triliun, sementara Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) mencapai Rp271 triliun, didorong oleh aktivitas ekonomi yang meningkat dan penguatan tata kelola perpajakan.
Belanja negara hingga Semester I-2026 tercatat Rp1.656 triliun atau 43,1 persen dari pagu APBN, naik 17,8 persen dibandingkan Semester I-2025. Belanja pemerintah pusat mencapai Rp1.298,6 triliun, meningkat 29,4 persen secara tahunan, digunakan untuk mendukung program-program prioritas seperti bantuan sosial dan pendidikan.
Kondisi Terakhir
Defisit APBN hingga Semester I-2026 tercatat Rp196,5 triliun atau 0,76 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun 2025. Purbaya menegaskan bahwa capaian Semester I menunjukkan momentum penerimaan negara yang positif. Ia juga menekankan pentingnya fungsi APBN sebagai shock absorber melalui kebijakan fiskal yang mengutamakan stabilitas daya beli masyarakat. Optimisme semakin diperkuat setelah lembaga pemeringkat internasional Standard & Poor's (S&P) mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level BBB untuk jangka panjang dengan prospek stabil. Purbaya menganggap ini sebagai pengakuan terhadap pengelolaan fiskal Indonesia yang hati-hati dan kredibel.




