Transformasi Peternakan dan Kesehatan Hewan di Indonesia: Tuntutan dan Kebijakan Kementerian Pertanian
Surabaya – Perubahan cepat dalam tren global peternakan dan kesehatan hewan memerlukan respons adaptif dari semua pemangku kepentingan. Kementerian Pertanian (Kementan) menegaskan pentingnya transformasi di sektor ini, mengingat kompleksitas dinamika global yang terus berkembang.
Transformasi yang Diperlukan
Dalam seminar bertajuk "Update Perkembangan Dunia Peternakan dan Kesehatan Hewan di Tengah Kebijakan Global dan Nasional" yang diadakan oleh Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga bersama Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Jawa Timur pada Sabtu (27/9), Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Agung Suganda, menyampaikan urgensi transformasi ini. Ia menjelaskan bahwa permintaan protein hewani yang terus meningkat, isu perubahan iklim, serta kemajuan teknologi menjadi pendorong utama dalam sektor ini.
Inovasi Teknologi dalam Peternakan
Agung menjelaskan bahwa teknologi seperti digital farming, precision livestock berbasis sensor, kecerdasan buatan (AI), big data, serta bioteknologi seperti tes genomik, vaksin generasi baru, dan teknologi reproduksi, berperan sebagai katalis dalam transformasi peternakan.
Ancaman yang Mengintai
Namun, di tengah peluang tersebut, terdapat ancaman serius yang perlu diwaspadai. Penyakit hewan lintas batas seperti Penyakit Kuku dan Mulut (PMK), Lumpy Skin Disease (LSD), Avian Influenza, dan African Swine Fever (ASF) menuntut adanya koordinasi lintas negara dalam kerangka One Health. Agung menekankan bahwa subsektor peternakan nasional tidak hanya menghadapi risiko penyakit menular, tetapi juga fluktuasi harga pakan dan ketergantungan pada impor komoditas seperti jagung dan kedelai.
Kebijakan yang Diperlukan
Kondisi ini membuat biaya produksi semakin rentan dan rantai pasok sangat tergantung pada pasar global. Akses terhadap inovasi bagi peternak kecil masih terbatas, sehingga diperlukan intervensi kebijakan yang lebih spesifik dan terarah dari pemerintah.
Komitmen Terhadap Digitalisasi
Pada kesempatan yang sama, Ketua Panitia Seminar, Desianto Budi Utomo, menyampaikan komitmen Sagavet dalam mengintegrasikan keilmuan dokter hewan dengan kebutuhan masyarakat. Ia menekankan pentingnya digitalisasi dalam profesi dokter hewan, yang tidak hanya berfungsi untuk memasarkan produk, tetapi juga untuk memberikan kontribusi kepada masyarakat.
Arah Kebijakan Kementan
Rangkaian diskusi seminar ini menyoroti berbagai isu teknis yang berkaitan dengan subsektor peternakan dan menegaskan bahwa kebijakan Kementan menjadi kunci dalam menerjemahkan rekomendasi akademis serta inovasi teknologi ke dalam praktik yang berdaya saing dan berkelanjutan di tingkat nasional.




