Rupiah Terus Menguat, Sentimen Global dan Kebijakan AS Menjadi Fokus Utama
Rupiah berhasil mempertahankan penguatannya terhadap dolar AS pada perdagangan Kamis, bergerak di kisaran 16.754 per dolar AS. Penguatan ini melanjutkan apresiasi yang terjadi sehari sebelumnya setelah Bank Indonesia melakukan langkah stabilisasi untuk meredakan tekanan pada nilai tukar.
Pada sesi perdagangan Rabu, pasangan mata uang USD/IDR dibuka di level 16.855, tetapi intervensi dari bank sentral berhasil mengarahkan nilai tukar kembali menguat. Memasuki sesi siang pada hari Kamis, nilai tukar tercatat melemah tipis sebesar 0,08%, dengan pergerakan harian berada dalam rentang 16.742,3 hingga 16.781,9. Secara teknis, diperkirakan ruang gerak rupiah akan tetap berada di kisaran 16.730 hingga 16.800, sementara fluktuasi jangka menengah masih cukup luas dengan rentang 52 minggu antara 16.085 hingga 16.988.
Dari perspektif global, arah pergerakan rupiah sangat dipengaruhi oleh dinamika kebijakan perdagangan yang diterapkan oleh Amerika Serikat. Baru-baru ini, Presiden Donald Trump mengumumkan penggunaan Pasal 122 Undang-Undang Tarif 1974 untuk menerapkan tarif tambahan sebesar 10% yang berpotensi naik hingga 15%. Kebijakan ini muncul setelah Mahkamah Agung memblokir sebagian tarif impor sebelumnya, yang menciptakan ketidakpastian bagi pelaku pasar dan mendorong mereka untuk lebih berhati-hati dalam menilai eksposur pada aset domestik.
Perwakilan Dagang AS, Jamieson Greer, juga menyebutkan bahwa tarif 10% tersebut bisa saja dinaikkan menjadi 15% atau lebih untuk beberapa negara, meskipun tidak ada rincian spesifik yang diberikan. Meskipun pemerintah AS tidak berencana untuk meningkatkan tarif terhadap Tiongkok menjelang kunjungan presiden ke Beijing, investigasi Pasal 301 yang mencakup Indonesia menjadi salah satu faktor yang dapat meningkatkan persepsi risiko terhadap rupiah.
Laporan dari Reuters menyoroti tantangan yang dihadapi Indonesia dalam memenuhi komitmen peningkatan impor pertanian dari AS. Target pembelian kedelai sebesar 3,5 juta ton dan bungkil kedelai 3,8 juta ton diperkirakan akan melebihi kebutuhan domestik yang sekitar 2,7 hingga 2,9 juta ton per tahun. Volume tambahan tersebut kemungkinan akan menjadi tanggung jawab BUMN Berdikari sebagai importir tunggal pakan ternak mulai tahun 2026. Selain itu, komitmen tambahan untuk impor gandum, jagung, kapas, dan produk pangan lain dari AS juga menjadi faktor yang perlu diperhitungkan dalam menilai keseimbangan eksternal rupiah.
Sementara itu, pejabat Federal Reserve menegaskan bahwa fokus kebijakan moneter mereka tetap pada stabilitas harga. Presiden The Fed Kansas City, Jeffrey Schmid, menekankan pentingnya independensi bank sentral dari tekanan politik, sementara Presiden The Fed St. Louis, Alberto Musalem, menyebutkan bahwa inflasi masih berada sekitar satu poin persentase di atas target, meskipun pasar tenaga kerja menunjukkan tanda-tanda pendinginan. Sikap hati-hati dari The Fed ini tetap menjadi salah satu faktor eksternal utama yang memengaruhi arah pergerakan rupiah.
Pasar saat ini juga menanti rilis data dari AS, khususnya Klaim Tunjangan Pengangguran Awal yang diproyeksikan sekitar 215 ribu, setelah sebelumnya tercatat 206 ribu. Selain itu, pidato pejabat Federal Reserve, Michelle Bowman, diharapkan dapat memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan moneter ke depan. Selanjutnya, perhatian investor akan beralih ke data Indeks Harga Produsen (IHP) yang dijadwalkan rilis pada hari Jumat, karena sering kali menjadi indikator awal tekanan inflasi dan dapat berdampak pada ekspektasi suku bunga The Fed serta pergerakan dolar AS.




