Rupiah Melemah ke Rp 16.783 per Dolar AS, Pasar Menanti Kepastian Suku Bunga AS
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami pelemahan di awal perdagangan akhir pekan ini. Pada hari Jumat, 27 Februari 2026, rupiah dibuka di level Rp 16.783 per dolar AS.
Berdasarkan data dari Bloomberg, rupiah tercatat mengalami penurunan sebesar 24 poin atau 0,14 persen dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya. Pelemahan ini mencerminkan adanya tekanan yang masih membayangi mata uang domestik dalam konteks dinamika eksternal yang berlangsung.
Sejumlah pelaku pasar berpendapat bahwa pelemahan rupiah dipengaruhi oleh sentimen global. Ketegangan geopolitik yang masih berlangsung serta ketidakpastian mengenai arah kebijakan suku bunga yang akan diambil oleh bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), menjadi faktor utama yang berkontribusi terhadap pergerakan mata uang di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga The Fed menjadi perhatian utama saat ini. Sikap hati-hati dari para investor terkait kemungkinan perubahan dalam kebijakan moneter AS menyebabkan aliran dana menjadi lebih dinamis. Hal ini pada gilirannya mempengaruhi stabilitas nilai tukar sejumlah mata uang di kawasan Asia.
Selain itu, keputusan Mahkamah Agung Amerika Serikat yang membatalkan kebijakan tarif impor era pemerintahan Donald Trump terhadap beberapa negara mitra dagang juga menjadi sorotan penting dalam konteks ini.




