Putusan Mahkamah Agung AS Tambah Ketidakpastian bagi Kebijakan Suku Bunga The Fed
Sumber Foto: kontan.co.id
Arah Kebijakan

Putusan Mahkamah Agung AS Tambah Ketidakpastian bagi Kebijakan Suku Bunga The Fed

Putusan Mahkamah Agung Amerika Serikat (AS) yang membatalkan sebagian besar tarif yang diterapkan oleh pemerintahan mantan Presiden Donald Trump telah menambah lapisan ketidakpastian baru bagi Federal Reserve (The Fed) dalam merumuskan kebijakan suku bunga. Selama setahun terakhir, para pejabat The Fed telah berusaha mengevaluasi dampak dari kenaikan tarif impor yang tajam terhadap inflasi dan pertumbuhan ekonomi.

Beberapa pejabat The Fed sebelumnya menyatakan keyakinan bahwa lonjakan harga yang disebabkan oleh tarif tersebut akan segera mereda. Namun, keputusan terbaru ini memunculkan pertanyaan baru terkait arah penurunan tekanan inflasi, terutama jika pemerintah AS mencari cara hukum lain untuk menerapkan tarif serupa di masa mendatang.

Pernyataan Pejabat The Fed

Presiden The Fed Atlanta, Raphael Bostic, mengungkapkan bahwa situasi ini bisa menyebabkan gangguan signifikan bagi dunia usaha. Ia menyoroti potensi kewajiban untuk mengembalikan dana kepada perusahaan yang telah membayar tarif sebelumnya, yang dapat menjadi masalah besar. “Jika ya, itu akan sangat mengganggu,” ungkap Bostic dalam sebuah acara di Birmingham, Alabama.

Bostic juga mempertanyakan apakah pelaku usaha akan kembali menjalankan model bisnis lama terkait sumber pasokan, serta langkah hukum apa yang akan diambil pemerintah untuk memberlakukan tarif di masa mendatang.

Pasar Suku Bunga yang Berubah

Ketidakpastian ini terlihat di pasar kontrak berjangka suku bunga, di mana pelaku pasar berfluktuasi antara ekspektasi bahwa The Fed akan mulai memangkas suku bunga pada bulan Juni atau menundanya hingga bulan Juli. Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menambahkan bahwa proses hukum mengenai kemungkinan pengembalian tarif yang telah dipungut bisa memakan waktu yang cukup lama, bahkan bisa mencapai “minggu, bulan, atau tahun.”

Di tengah situasi ini, pemerintahan Trump merencanakan penerapan pungutan impor alternatif melalui kewenangan hukum lainnya untuk menggantikan tarif yang dibatalkan dalam putusan Mahkamah Agung yang diambil dengan suara 6-3. Bessent menegaskan, “Tidak ada yang perlu berharap bahwa pendapatan tarif akan turun.”

Proyeksi Ekonomi yang Terganggu

Presiden The Fed St. Louis, Alberto Musalem, menyatakan bahwa jika tarif baru hanya menggantikan tarif lama satu banding satu, proyeksi ekonomi tidak akan banyak berubah. Namun, ia mengakui bahwa akan ada periode transisi yang dapat menambah ketidakpastian bagi perusahaan-perusahaan yang terlibat.

“Saat perusahaan memikirkan bagaimana beralih dari membayar tarif berdasarkan IEEPA ke jenis tarif lain, itu bisa menciptakan periode ketidakpastian,” ujarnya dalam wawancara dengan Fox Business Network.

Sementara itu, Presiden The Fed Dallas, Lorie Logan, menekankan pentingnya untuk terus memantau perkembangan situasi ini, meskipun saat ini belum ada pandangan spesifik mengenai langkah-langkah yang akan diambil. Dengan dinamika hukum dan kebijakan tarif yang terus berubah, The Fed kini menghadapi tantangan tambahan dalam menentukan waktu dan besaran pemangkasan suku bunga, di tengah ketidakpastian inflasi dan arah ekonomi AS.