Proyeksi Nilai Tukar Rupiah pada Jumat (17/7): Fokus pada Kebijakan The Fed
Sumber Foto: kontan.co.id
Arah Kebijakan

Proyeksi Nilai Tukar Rupiah pada Jumat (17/7): Fokus pada Kebijakan The Fed

Arahan News - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menunjukkan penguatan pada perdagangan Kamis (16/7/2026), didorong oleh pengakuan independensi Bank Indonesia (BI) serta pelemahan indeks dolar AS.

Awal Kejadian

Rupiah di pasar spot ditutup menguat 0,45% menjadi Rp 17.986 per dolar AS. Berdasarkan kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia, rupiah tercatat menguat 0,12% ke level Rp 18.041 per dolar AS dibandingkan hari sebelumnya.

Perkembangan

Analis Ibrahim Assuaibi menyebut penguatan rupiah sebagian besar didukung oleh pengakuan S&P Global Ratings terhadap independensi BI serta kebijakan fiskal pemerintah yang berkelanjutan. Hal ini memberikan ruang bagi BI untuk menerapkan kebijakan yang mendukung stabilitas dan pertumbuhan ekonomi. Ibrahim juga mencatat bahwa BI masih memiliki opsi untuk menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,75%.

Untuk perdagangan Jumat (17/7/2026), Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah akan dipengaruhi oleh arah kebijakan The Fed. Ketua The Fed, Kevin Warsh, menegaskan komitmen bank sentral untuk mengembalikan inflasi ke target 2% dan siap menyesuaikan suku bunga sesuai dengan tekanan harga yang terjadi.

Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, mencatat bahwa penguatan rupiah juga seiring dengan pelemahan indeks dolar AS setelah rilis data inflasi produsen di AS yang lebih rendah dari ekspektasi pasar. PPI AS mengalami penurunan 0,3% pada Juni 2026, berbeda dari proyeksi stagnasi yang diharapkan pasar.

Kondisi Terakhir

Lukman memproyeksikan nilai tukar rupiah pada perdagangan Jumat (17/7/2026) akan bergerak di kisaran Rp 17.950 hingga Rp 18.050 per dolar AS. Ia menambahkan bahwa minimnya agenda data ekonomi penting akan membuat investor memperhatikan perkembangan geopolitik di Timur Tengah dan pergerakan harga minyak dunia. Jika tidak terjadi eskalasi konflik di kawasan tersebut, rupiah berpotensi melanjutkan penguatan.