Penutupan Selat Hormuz dan Dampaknya bagi Indonesia
Arahan News - Selat Hormuz resmi ditutup akibat eskalasi konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari 2026, yang berdampak signifikan terhadap pasar energi global.
Awal Kejadian
Ketegangan meningkat setelah serangan gabungan AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari 2026. Sehari setelah serangan tersebut, Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz untuk pelayaran internasional, memberikan peringatan kepada kapal-kapal di kawasan Teluk bahwa kapal komersial tidak diizinkan melintas.
Perkembangan
Perusahaan pelayaran global segera mengambil langkah antisipasi dengan menunda pelayaran melalui jalur tersebut demi keselamatan awak dan kargo. Dampak langsung terasa di pasar energi, dengan harga minyak mentah Brent melonjak tajam dalam satu hari perdagangan. Analis memperkirakan harga minyak dapat mendekati 100 dollar AS per barrel jika gangguan berlangsung lama.
Dampak bagi Indonesia
Penutupan Selat Hormuz berpotensi berdampak negatif bagi Indonesia meskipun bukan negara Teluk. Indonesia sebagai pengimpor minyak mentah dan LPG rentan terhadap lonjakan harga energi global. Hal ini dapat memicu kenaikan harga BBM, biaya logistik dan asuransi kapal, serta risiko inflasi menjelang Ramadhan dan Lebaran. Selain itu, lonjakan harga minyak dapat menekan cadangan devisa dan neraca pembayaran, serta memengaruhi stabilitas nilai tukar rupiah.




