Penurunan Outlook Moody's: Peringatan Kritis untuk Kebijakan Ekonomi Prabowo
Jakarta – Penurunan outlook dari stabil menjadi negatif oleh lembaga pemeringkat Moody's menjadi sinyal peringatan bagi kebijakan ekonomi pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira Adhinegara, menyatakan bahwa meskipun pertumbuhan ekonomi diperkirakan mencapai 5,11 persen pada tahun 2025, terdapat risiko yang dapat menghambat pertumbuhan ekonomi pada tahun 2026.
Salah satu isu yang diangkat adalah pengambilalihan 28 izin perusahaan oleh Daya Anagata Nusantara (Danantara), yang dianggap sebagai langkah nasionalisasi aset swasta. Bhima menekankan bahwa kebijakan yang disampaikan terlalu dini, termasuk rencana pelebaran defisit anggaran, dapat menimbulkan kekhawatiran terhadap disiplin fiskal.
“Setiap wacana untuk merevisi Undang-Undang Keuangan Negara 2003, termasuk mengganti batas defisit yang saat ini ditetapkan sebesar 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), berpotensi menimbulkan penolakan dari kalangan investor,” jelasnya.
Selain itu, proyek Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mengusung anggaran besar juga mendapat sorotan. Bhima mencatat bahwa implementasi proyek tersebut masih memiliki banyak catatan meskipun penerimaan pajak mengalami penurunan, yang berdampak pada efisiensi anggaran di daerah. “Sebaiknya, proyek MBG dievaluasi secara menyeluruh dan tidak dipaksakan,” tambahnya.
Bhima menyatakan bahwa peringatan dari Moody's harus dijadikan sebagai catatan penting untuk perbaikan. Jika rating Moody's kembali turun, hal ini dapat mengakibatkan kenaikan tajam suku bunga utang dan memberikan tekanan berat terhadap nilai tukar rupiah. “Sebelumnya, banyak ekonom telah memberikan peringatan. Kini, lembaga pemeringkat juga mengingatkan agar perubahan kebijakan dapat dilakukan dengan bijak,” ungkapnya.
Efek dari penurunan rating Moody's sudah mulai terlihat. Pada awal perdagangan hari ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka dalam posisi merah, menurun 2,31 persen dari posisi sebelumnya, yaitu dari 8.103,87 menjadi 7.916,44. Selain itu, nilai tukar rupiah juga melemah, dibuka pada level Rp16.865 per dolar Amerika Serikat, mengalami penurunan 0,14 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp16.842 per dolar AS.




