Negara-negara Rentan Terhadap Penutupan Selat Hormuz Akibat Konflik AS-Israel dan Iran
Arahan News - Perekonomian Asia menghadapi tantangan signifikan setelah Iran menutup Selat Hormuz sebagai respons terhadap serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel. Penutupan ini diikuti dengan penembakan terhadap kapal-kapal yang mencoba melewati selat tersebut.
Awal Kejadian
Selat Hormuz, yang merupakan jalur perdagangan vital untuk pasokan energi global, telah ditutup sejak 2 Maret 2026. Sekitar 20% minyak dunia dikirim melalui selat ini, dengan kapal tanker dari negara-negara seperti Arab Saudi, Kuwait, Irak, Qatar, Bahrain, Uni Emirat Arab, dan Iran mengandalkan rute ini untuk distribusi energi ke Asia.
Perkembangan
Konflik ini menyebabkan gejolak di pasar minyak global, dengan harga minyak melonjak. Dalam laporan terbaru, harga minyak naik 2,6 persen menjadi sekitar 80 dolar AS per barel, hampir 10 persen lebih tinggi sejak awal konflik. Analisis menunjukkan bahwa negara-negara seperti Thailand, India, Korea, dan Filipina sangat terpengaruh oleh kenaikan harga minyak karena ketergantungan tinggi mereka terhadap impor energi. Sementara itu, Malaysia diperkirakan akan mendapatkan keuntungan sebagai negara pengekspor energi.
Kondisi Terakhir
Menurut data, China merupakan negara yang paling terdampak, mengimpor lebih dari setengah minyak mentah yang diangkut melalui jalur laut dari kawasan ini, dengan seperempatnya berasal dari Iran. China memiliki cadangan minyak mentah yang cukup untuk bertahan sekitar 115 hari dalam situasi ini.




