Negara-Negara dengan Cadangan Minyak Paling Rentan Akibat Penutupan Selat Hormuz
Arahan News - Penutupan Selat Hormuz oleh Iran, menyusul serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel, menimbulkan dampak signifikan pada perekonomian global, terutama terkait pasokan energi. Selat Hormuz adalah jalur perdagangan vital, di mana sekitar 20% minyak dunia melewati selat ini. Iran tidak hanya menutup selat, tetapi juga menembaki kapal-kapal yang mencoba melintas, menciptakan ancaman serius bagi negara-negara yang bergantung pada impor minyak dari kawasan tersebut.
Awal Kejadian
Penutupan Selat Hormuz dimulai pada 2 Maret 2026, yang langsung mengakibatkan gejolak pada harga minyak global. Harga minyak meningkat drastis, dengan beberapa analis memprediksi harga bisa melampaui 100 dolar AS per barel. Negara-negara Asia, seperti Thailand, India, Korea, dan Filipina, menjadi yang paling terpengaruh karena ketergantungan tinggi terhadap impor energi.
Perkembangan
Beberapa negara yang paling rentan menghadapi krisis akibat penutupan Selat Hormuz antara lain China, Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Thailand, India, dan Indonesia. China memiliki cadangan minyak yang cukup untuk bertahan sekitar 115 hari, namun sangat bergantung pada pasokan dari Iran. Jepang mengimpor lebih dari 90% minyaknya melalui selat ini dan memiliki cadangan yang cukup untuk 254 hari. Sementara itu, Korea Selatan bergantung pada 70% minyaknya dari kawasan Teluk, dengan cadangan cukup untuk 219 hari.
Taiwan memiliki cadangan minyak sekitar 120 hari, tetapi hanya 11 hari untuk gas alam, yang dapat memengaruhi industri semikonduktornya. Thailand dan India juga menunjukkan kerentanan dalam menghadapi kenaikan harga minyak yang berpotensi memperburuk kondisi ekonomi mereka. Sementara itu, Menteri ESDM Indonesia mengonfirmasi bahwa cadangan BBM nasional cukup untuk 20 hari, namun belum ada koreksi harga dari PT Pertamina.
Kondisi Terakhir
Hingga 4 Maret 2026, situasi di Selat Hormuz dan dampaknya terhadap ekonomi global terus berkembang. Diskusi mengenai ketersediaan minyak dan langkah-langkah antisipatif sedang dilakukan oleh pemerintah Indonesia untuk memastikan stabilitas pasokan energi di tengah konflik ini.




