Menghormati Alex Noerdin, Arsitek Kejayaan Jakabaring Sport City
waktu baca 8 menit
Di matanya, membangun fasilitas olahraga berstandar dunia bukan sekadar soal kemegahan fisik, melainkan investasi harga diri bangsa yang akan dikenang lintas generasi
Palembang (ANTARA) - Dalam lembaran sejarah pembangunan Sumatera Selatan, nama Alex Noerdin akan selalu tertulis dengan tinta emas sebagai sosok yang berani "menantang ketidakmungkinan".
Mantan Gubernur Sumatera Selatan dua periode (2008–2018) ini bukan sekadar pemimpin administratif, melainkan seorang arsitek peradaban yang berhasil mengubah rawa-rawa sunyi di pinggiran Kota Palembang menjadi episentrum olahraga dunia bernama Jakabaring Sport City (JSC).
Bagi Alex Noerdin, olahraga adalah instrumen diplomasi paling tajam untuk mengangkat marwah daerah. Di matanya, membangun fasilitas olahraga berstandar dunia bukan sekadar soal kemegahan fisik, melainkan investasi harga diri bangsa yang akan dikenang lintas generasi.
Titik balik paling krusial dalam karier kepemimpinan Alex Noerdin bermula pada tahun 2009, saat ia menyatakan kesiapan Sumatera Selatan menjadi tuan rumah tunggal SEA Games 2011 di luar Jakarta.
Saat itu, banyak pihak di tingkat nasional memandang remeh meski Sumsel menjadi provinsi pertama di luar Jawa yang menyelenggarakan PON, tepatnya PON ke-16 tahun 2004.
Keraguan muncul, mampukah sebuah provinsi di luar Jawa ,perhelatan akbar negara-negara Asia Tenggara dalam waktu persiapan yang sangat singkat.
Namun, Alex justru melihat celah strategis di tengah keraguan tersebut. Di bawah komandonya, kawasan Jakabaring yang semula merupakan hamparan rawa gambut terisolasi, yang sering dianggap sebagai kawasan "tak bertuan" bermetamorfosis yang mencengangkan hanya dalam waktu kurang dari dua tahun.
Ia menyulap kawasan seluas 325 hektare tersebut menjadi kompleks olahraga terpadu terbaik di Asia Tenggara. Di Jakabaring, Alex tidak hanya membangun gedung, ia membangun venue berstandar internasional.
Pada perhelatan SEA Games 2011, kawasan Jakabaring Sport City (JSC) dibangun besar-besaran. Alex Noerdin berhasil membangun dan merevitalisasi sekitar 21 venue dalam waktu yang sangat singkat, kurang dari dua tahun, untuk memenuhi standar internasional.
Venue itu di antaranya, Aquatic Center yang menjadi salah satu terbaik di Asia Tenggara saat itu. Memiliki kolam tanding, kolam loncat indah, dan kolam pemanasan dengan sistem penyaringan air yang sangat modern. Venue ini telah mendapatkan sertifikasi dari FINA.
Standar IAAF
Kemudian, Stadion Atletik yang dibangun dengan lintasan lari berbahan sintetis standar internasional (IAAF). Stadion ini dilengkapi dengan fasilitas penunjang untuk nomor lempar, lompat, dan lari. Lalu, Lapangan Tembak yang menjadi salah satu yang tercanggih di Indonesia dengan sistem sasaran elektronik. Venue ini dibangun untuk melayani berbagai nomor pertandingan, mulai dari pistol hingga senapan angin.
Venue Dayung (Regatta Course) yang menjadi salah satu mahakarya Alex Noerdin. Memanfaatkan danau buatan di tengah komplek JSC, lintasan ini merupakan salah satu lintasan dayung, kano, dan kayak terbaik di Asia karena kondisinya yang tenang dan pemandangannya yang estetis.
Lalu, Ranau Gymnastic Hall (senam), Stadion Tenis (Bukit Asam Tennis Court), Venue Voli Pantai, Venue Baseball dan Softball dan Venue Panjat Tebing (Wall Climbing).
Pada tahun 2011 juga dibangun fasilitas krusial lainnya yakni wisma atlet untuk menampung ribuan atlet dari 11 negara ASEAN, Dining Hall, ruang makan raksasa yang mampu melayani kebutuhan nutrisi ribuan atlet secara bersamaan. Dan, merevitalisasi Stadion Gelora Sriwijaya untuk digunakan sebagai tempat bertanding dan upacara pembukaan dan penutupan SEA Games 2011.
Keberhasilan SEA Games 2011 di Palembang bukan sekadar soal perolehan medali, melainkan pembuktian bahwa Sumatera Selatan telah siap menjadi pemain utama di panggung global.
Salah seorang wartawan senior Sumsel merekam perjalanan Alex Noerdin di masa keemasannya, Hadi Prayogo mengungkapkan bagaimana upaya keras yang dilakukan gubernur dua periode ini untuk mencapai cita-citanya menjadikan Sumsel sebagai pusat penyelengaraan ajang olahraga berskala internasional.
Ia tak dapat menutupi rasa kagum karena Alex merupakan sosok pemimpin yang bukan hanya memiliki visi besar tapi juga berani mengambil risiko.
"Saya ini hanya punya modal 325 hektare lahan semak belukar di Jakabaring. Bagaimana caranya ini bisa dijadikan kompleks olahraga nasional tanpa gunakan APBN dan APBD," kata Hadi mengulangi ucapan Alex Noerdin ketika itu.
Ia menilai strategi Alex Noerdin terbilang brilian dalam menyiasati keterbatasan anggaran. Alih-alih terpaku pada APBD, Alex melancarkan diplomasi lobi yang memikat BUMN dan raksasa swasta untuk mewakafkan infrastruktur bagi bangsa. Wujud nyatanya, Pertamina dan Sinar Mas menghadirkan Arena Boling kelas dunia, sementara PT Bukit Asam membangun Stadion Tenis Lapangan yang megah untuk mendukung pelaksanaan ASIAN Games 2018.
"Pak Alex ini cerdas. Dia tak mau terima bantuan berupa dana, tapi mau terima kunci gedung. Jadi itu wujudnya, arena boling dan stadion tenis lapangan," kata Hadi.
Asian Games 2018
Jika SEA Games 2011 adalah pembuktian, maka Asian Games 2018 adalah pengakuan dunia. Alex Noerdin memahami bahwa fasilitas di Jakabaring tidak boleh menjadi "proyek monumen" yang terbengkalai.
Melalui kemampuan lobi dan diplomasi internasional yang ulung, ia berhasil meyakinkan Olympic Council of Asia (OCA) dan pemerintah pusat bahwa Palembang layak mendampingi Jakarta sebagai tuan rumah ajang olahraga terbesar di benua Asia.
Penyelenggaraan Asian Games 2018 di Palembang menjadi momen bersejarah. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Asian Games digelar di dua kota berbeda, dan Palembang membuktikannya dengan sempurna.
Pada saat persiapan Asian Games 2018, fokus utama di Jakabaring Sport City (JSC) bukan lagi membangun dari nol seperti ketika persiapan SEA Games 2011, melainkan melakukan renovasi besar-besaran agar memenuhi standar Olimpiade dan membangun beberapa venue baru yang sangat ikonik.
Deretan venue yang dibangun dan ditingkatkan secara signifikan khusus untuk Asian Games 2018 di Palembang, yakni Bowling Center yang terbilang paling fenomenal. Ini adalah salah satu venue yang paling dibanggakan Alex Noerdin. Dibangun melalui sinergi dengan Pertamina dan Sinar Mas, gedung ini memiliki 40 lintasan boling dengan teknologi tercanggih di dunia. Venue ini diakui sebagai salah satu pusat boling terbaik di Asia.
Kemudian, Dayung dan Kano/Kayak (Regatta Course) untuk Asian Games 2018, danau Jakabaring diperluas dan diperdalam. Dibangun pula tribun penonton permanen yang megah dan menara finis yang ikonik. Lintasan ini memiliki panjang 2.200 meter dan merupakan salah satu venue dayung terbaik karena lokasinya yang terintegrasi di tengah kota.
Lalu, Venue Menembak (Shooting Range).Meskipun sudah ada sejak SEA Games, venue ini direnovasi total dan diperluas untuk Asian Games 2018. Fasilitasnya dilengkapi dengan sasaran elektronik terbaru dan menjadi salah satu yang terlengkap untuk mengakomodasi berbagai nomor pertandingan internasional.
Jakabaring Aquatic Center juga mendapat renovasi signifikan, termasuk pemasangan atap baru dan sistem sirkulasi air yang diperbarui sesuai standar FINA. Kolam tanding dan loncat indahnya tetap menjadi salah satu yang tercantik di Asia karena desainnya yang semi-terbuka. Lalu, Arena Skateboard dan Roller Skate, Stadion Tenis (Bukit Asam Tennis Court).
Kemudian, Wisma Atlet dan Rusunami serta fasilitas pendukung non-venue yakni LRT (Light Rail Transit) yang dibangun khusus untuk menghubungkan Bandara SMB II ke Jakabaring. Jembatan Ampera dipercantik dengan lampu-lampu hias sebagai ikon wisata menyambut tamu mancanegara, dan PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya) dengan kapasitas 2 Megawatt yang dibangun di dalam kompleks JSC untuk mewujudkan konsep Eco-Sport City.
"Hingga kini belum ada lagi provinsi di Indonesia yang mampu seperti Sumsel, bisa sama-sama Jakarta menyelenggarakan SEA Games dan ASEAN Games. Ini sebuah tinta emas dalam catatan sejarah Indonesia," kata Hadi.
Salah satu legasi paling fenomenal yang lahir dari kebutuhan ajang Asian Games adalah Light Rail Transit (LRT) Sumatera Selatan. Alex menyadari bahwa aksesibilitas adalah kunci sukses perhelatan internasional.
Dengan visi yang melompat jauh ke depan, ia berhasil meyakinkan Presiden Jokowi bahwa Palembang membutuhkan transportasi berbasis rel modern untuk menghubungkan Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II langsung ke jantung Jakabaring.
LRT pertama di Indonesia ini adalah buah dari visi "olahraga sebagai pemicu pembangunan". Tanpa adanya pergelaran Asian Games dan kesiapan infrastruktur olahraga di Jakabaring, sulit membayangkan teknologi transportasi semodern itu hadir di Palembang lebih cepat dari ibu kota negara. LRT bukan hanya fasilitas bagi atlet, melainkan warisan transportasi yang mengubah wajah mobilitas warga Bumi Sriwijaya.
Legasi
Hingga embusan napas terakhir pengabdiannya, Alex Noerdin tetap teguh menyuarakan pentingnya pembinaan atlet. Baginya, setiap tiang pancang yang tertanam di Jakabaring bukan sekadar beton, melainkan representasi wajah Indonesia di mata internasional.
Ia telah membuktikan bahwa Sumatera Selatan bukan sekadar titik kecil di peta, melainkan episentrum prestasi dengan fasilitas yang sejajar dengan kemegahan kota-kota metropolitan dunia.
Kini, sang maestro itu telah berpulang. Alex Noerdin mengembuskan napas terakhirnya di Jakarta pada Rabu, 25 Februari 2026. Namun, setiap kali sorak-sorai penonton menggema di Stadion Gelora Sriwijaya, setiap kali dayung atlet membelah air di danau Jakabaring, dan setiap kali bendera antarbangsa berkibar di Bumi Sriwijaya, sejarah akan selalu membisikkan satu nama, Alex Noerdin.
Hadi Prayogo, wartawan senior yang pernah mewawancarai Alex di tengah badai demonstrasi pembangunan JSC dahulu, mengenang sebuah kalimat filosofis dari sang gubernur:
"Pak Alex pernah berkata, 'Nanti lihat saja, saat saya sudah tidak ada, baru orang menyadari dan mengelu-elukan nama saya, bahwa apa yang saya bangun ini benar-benar bermanfaat untuk masyarakat'," ungkap Hadi.
Penghormatan tinggi juga datang dari pendahulunya, Rosihan Arsyad, Gubernur Sumsel periode 1998–2003 yang membiding PON XVI.
Dalam sebuah pesan perpisahan yang menyentuh di media sosial, Rosihan mengakui bahwa Alex adalah sosok yang berhasil membawa visinya ke level yang jauh lebih tinggi.
"Selamat jalan, adinda Alex Noerdin. Anda telah melanjutkan pembangunan yang saya mulai dengan jauh lebih baik. Anda mempelopori pendidikan gratis dan mewujudkan Jakabaring Sport City menjadi kenyataan. Semoga semua ini menjadi amal ibadah dengan pahala yang tak terputus. We all miss you," tulis Rosihan.
Kini, panggung megah itu telah sunyi dari kehadiran sang arsitek. Namun, gema prestasinya akan terus melahirkan juara dan menjaga kehormatan bangsa di masa depan.
Selamat jalan, sang arsitek Jakabaring.
1 2 3 4 Tampilkan Semua
Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.




