Ketidakpastian Tarif AS Hantui Pasar Asia, Nvidia Jadi Fokus Utama
Sentimen kehati-hatian menyelimuti pasar saham Asia pada awal pekan ini, Senin (23/2/2026), seiring para investor mencermati perkembangan kebijakan tarif Amerika Serikat (AS) yang kembali memicu ketidakpastian global. Di tengah dinamika tersebut, kinerja raksasa chip kecerdasan buatan (AI), Nvidia, turut menjadi fokus utama yang dinilai akan menguji optimisme terhadap reli sektor teknologi.
Fakta Cepat
Mahkamah Agung AS membatalkan sebagian besar kebijakan tarif Presiden Donald Trump pada 20 Februari 2026.
Trump segera merespons dengan mengumumkan tarif global baru sebesar 10%, yang kemudian dinaikkan menjadi 15% pada 21 Februari 2026.
Kebijakan tarif baru ini menciptakan ketidakpastian mengenai implementasi dan cakupan produknya.
AS dan Tiongkok dilaporkan sepakat memperpanjang gencatan perang dagang hingga 2027.
Saham Nvidia menguat setelah Meta Platforms mengumumkan kemitraan chip AI, namun skeptisisme terhadap AI dapat menekan harga sahamnya.
Nvidia dijadwalkan merilis laporan keuangan kuartal IV tahun fiskal 2026 pada 25 Februari 2026.
Ketidakpastian yang muncul dari Washington ini berdampak langsung pada pergerakan mata uang dan sentimen investasi di kawasan Asia. Fluktuasi kebijakan tarif AS berpotensi memicu volatilitas pasar, terutama bagi negara-negara yang memiliki ketergantungan ekspor tinggi ke Negeri Paman Sam. Selain itu, prospek industri semikonduktor yang dipimpin oleh Nvidia juga menjadi barometer penting bagi arah pasar teknologi global.
Simak artikel informatif lainnya di Mureks melalui mureks.co.id.
Dinamika Kebijakan Tarif AS dan Respons Global
Lanskap perdagangan global kembali bergejolak setelah Mahkamah Agung AS pada Jumat (20/2/2026) membatalkan sebagian besar kebijakan tarif yang diberlakukan oleh Presiden Donald Trump. Putusan ini menyatakan bahwa penggunaan Undang-Undang Kewenangan Darurat Ekonomi 1977 oleh Trump melampaui batas konstitusional. Namun, tak butuh waktu lama bagi Trump untuk merespons. Pada hari yang sama, ia langsung menandatangani perintah eksekutif baru untuk memberlakukan “tarif global” sebesar 10%, yang kemudian dinaikkan menjadi 15% pada Sabtu (21/2/2026). Angka ini disebut sebagai batas maksimal yang diizinkan secara hukum.
Rodrigo Catril, analis valas senior di National Australia Bank (NAB), menyoroti bahwa lanskap tarif kini justru semakin tidak pasti. “Ketidakpastian bukan kabar baik bagi ekonomi maupun pasar. Kita bisa saja masuk dalam siklus pengumuman tarif baru, lalu dibatalkan, lalu diumumkan lagi,” ujarnya. Ketidakjelasan mengenai kapan tarif tersebut diberlakukan, produk apa saja yang dikecualikan, serta apakah semua negara akan dikenakan tarif 15% masih menjadi pertanyaan besar.
Di tengah ketegangan ini, AS dan Tiongkok dilaporkan sepakat memperpanjang masa berlaku kesepakatan ‘gencatan’ perang dagang yang ditandatangani pada Oktober lalu di Korea Selatan. Perpanjangan selama satu tahun ke depan ini kemungkinan akan disetujui pada April mendatang. Dalam kesepakatan sebelumnya, AS telah menurunkan rata-rata tarif atas barang asal Tiongkok dari 57% menjadi 47%. Meskipun demikian, defisit perdagangan AS justru melebar 2,1% pada tahun 2025, mencapai rekor baru, sementara Tiongkok mencatat surplus perdagangan terbesar sepanjang sejarahnya, hampir $1,2 triliun.
Indonesia sendiri telah mengambil langkah proaktif. Menurut pantauan Mureks, Indonesia dan AS resmi menandatangani perjanjian perdagangan timbal balik (Agreement on Reciprocal Trade/ART) pada Jumat (20/2/2026). Kesepakatan ini menurunkan tarif impor AS bagi produk Indonesia menjadi 19%, bahkan beberapa komoditas unggulan seperti minyak kelapa sawit (CPO), kopi, dan kakao mendapatkan tarif 0% atau bebas bea masuk.
Nvidia dan Prospek Industri Semikonduktor
Di sisi lain, pasar juga menyoroti kinerja Nvidia, raksasa chip AI yang akan merilis laporan keuangan kuartal IV tahun fiskal 2026 pada 25 Februari 2026. Saham Nvidia sempat melesat 1,6% pada Rabu (18/2/2026) setelah Meta Platforms mengumumkan kemitraan jangka panjang untuk menggunakan jutaan chip dan perangkat Nvidia dalam pembangunan pusat data AI. Analis James Schneider dari Goldman Sachs bahkan memperkirakan Nvidia akan membukukan kinerja kuartalan yang positif berkat tren penawaran dan permintaan yang menguntungkan, dengan target harga saham hingga $250, bahkan ada proyeksi tertinggi mencapai $352 dari Evercore.
Namun, catatan Mureks menunjukkan, ada kekhawatiran yang meningkat mengenai skeptisisme terhadap kecerdasan buatan (AI) secara umum, yang berpotensi menekan harga saham Nvidia terlepas dari hasil laporan laba. Saham perusahaan ini telah bergerak sideways selama berbulan-bulan. Nvidia sendiri bersiap meluncurkan arsitektur chip terbaru bernama Rubin, yang diklaim akan melampaui Blackwell, dengan pengiriman dijadwalkan pada paruh kedua tahun ini.
Secara lebih luas, industri semikonduktor global terus berkembang pesat. Indonesia pun serius menangkap peluang ini, terutama dengan cadangan pasir silika yang melimpah sebagai bahan baku utama silicon wafer. Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menyatakan pentingnya Indonesia masuk ke rantai pasokan global semikonduktor. Meskipun demikian, ketergantungan impor semikonduktor Indonesia masih tinggi, mencapai $4,87 miliar pada periode Januari-November 2025, naik hampir dua kali lipat dari tahun 2020. Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian terus memperkuat ekosistem semikonduktor nasional melalui pengembangan desain chip dan sumber daya manusia.
Dampak pada Pasar Asia dan Rupiah
Ketidakpastian tarif AS dan sentimen terhadap sektor teknologi global turut memengaruhi pasar Asia. Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang hanya naik tipis 0,5% pada Senin (23/2/2026) dalam perdagangan yang sepi. Dolar AS sendiri melemah di tengah kebingungan tarif, yang membantu mata uang Asia menguat terbatas.
Bagi Indonesia, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M Rizal Taufikurahman, sebagaimana dihimpun Mureks, menyatakan bahwa dampak tarif impor Trump berpotensi menyebabkan arus keluar portofolio jangka pendek dari obligasi dan saham, kenaikan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN), serta tekanan pada likuiditas pasar. “Jadi pengaruh awalnya lebih terasa di pasar keuangan dibanding sektor riil,” ujar Rizal. Tekanan paling cepat biasanya terjadi pada rupiah karena sensitif terhadap pergerakan dolar global dan arus modal, yang berpotensi membuat rupiah melemah sementara.




